SELASA, 29 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  RI-Belarus Sepakati Roadmap 2026-2030, Nilai Perda...

Ekonomi

RI-Belarus Sepakati Roadmap 2026-2030, Nilai Perdagangan Melonjak 72,6%

Indonesia dan Belarus mempertebal fondasi kerja sama ekonomi lewat Sidang Komisi Bersama ke-8 di Minsk, menjelang kunjungan Presiden Lukashenko ke Jakarta awal Juli 2026.

Belarus Supports Indonesia–EAEU Free Trade Deal Signing - RRI.co.id

Nilai perdagangan Indonesia-Belarus sudah melonjak 72,6% menjadi sekitar 221 juta dolar AS, dan agaknya dua negara ini baru saja menginjak pedal gas lebih dalam.

Di Minsk, Jumat (15/5/2026), Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memimpin Sidang Komisi Bersama (SKB) ke-8 RI-Belarus bersama Wakil Perdana Menteri Belarus Viktor Karankevich. Forum bilateral ini sempat vakum sejak SKB ke-7 digelar secara virtual di masa pandemi 2022, kini kembali dengan agenda yang jauh lebih padat. Momentumnya jelas: kunjungan kenegaraan Presiden Alexander Lukashenko ke Indonesia dijadwalkan awal Juli, dan kedua pihak butuh sesuatu yang konkret untuk dibawa pulang.

Salah satu output utama yang sedang dimatangkan adalah Roadmap of Developing Key Areas of Cooperation between Belarus and Indonesia for 2026-2030, dokumen kerja sama sistematis yang mencakup perdagangan, investasi, industri, pertanian, hingga sosial budaya. Ditargetkan jadi salah satu deliverables resmi saat Lukashenko tiba di Jakarta, bukan sekadar dokumen seremonial.

"Indonesia memandang Belarus sebagai mitra strategis dalam penguatan kerja sama industri, ketahanan pangan, dan pengembangan manufaktur berbasis teknologi. Implementasi Indonesia-EAEU FTA diharapkan dapat membuka peluang perdagangan dan investasi yang lebih luas dan saling menguntungkan," kata Menko Airlangga dalam sambutan pembukaan.

Soal FTA, progresnya cukup jauh. Perjanjian perdagangan bebas Indonesia dengan Uni Ekonomi Eurasia (I-EAEU FTA) yang ditandatangani Desember 2025 di St. Petersburg kini memasuki tahap ratifikasi. Pihak Belarus mengklaim parlemen mereka sudah beres, tinggal menunggu tanda tangan Lukashenko. Indonesia menargetkan penyelesaian ratifikasi di paruh kedua 2026.

Di luar FTA, kedua pihak menggali beberapa sektor spesifik. Untuk industri, skema yang didorong meliputi joint venture, local assembly, transfer teknologi, dan joint assembly machineries di Indonesia, terutama untuk alat berat, kendaraan komersial, dan mesin pertanian. Belarus, yang punya basis manufaktur kuat di sektor-sektor itu, disambut sebagai kandidat mitra diversifikasi industri yang serius. Bak gayung bersambut, sebetulnya.

Potensi pasokan pupuk potash dari Belarus juga masuk agenda. Belarus termasuk produsen potash terbesar dunia, dan Indonesia dengan ambisi ketahanan pangannya punya kepentingan nyata di sini. Kerja sama di bidang kendaraan listrik dan semikonduktor turut disinggung, meski masih dalam tahap penjajakan awal.

DPM Karankevich dalam forum itu mendorong pembentukan Dewan Bisnis Indonesia-Belarus. Menurutnya, mekanisme itu akan sangat membantu konektivitas antarpelaku usaha. Forum Bisnis Indonesia-Belarus juga direncanakan digelar bersamaan dengan kunjungan Lukashenko.

Pertemuan ini juga menyentuh hal-hal yang lebih operasional: rencana pembukaan Kedutaan Besar RI di Minsk, wacana penerbangan langsung kedua negara, kemudahan visa, hingga pengiriman tenaga kesehatan dan pelajar Indonesia ke institusi pendidikan di Belarus. Airlangga mendorong agar program sumber daya manusia itu diperluas ke bidang STEM, sesuai prioritas pemerintah Prabowo.

Kunjungan Lukashenko ke Jakarta Juli nanti jadi taruhan. Seberapa banyak dari semua agenda ini yang berubah jadi perjanjian konkret, itu yang menentukan apakah momentum 72,6% ini benar-benar berlanjut, atau sekadar angka sesaat yang menarik untuk dikutip.