SABTU, 10 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Reza Pahlavi Sesalkan Gencatan Senjata, Desak Raky...

Internasional

Reza Pahlavi Sesalkan Gencatan Senjata, Desak Rakyat Iran Gulingkan Rezim dari Dalam

Putra mahkota Iran dalam pengasingan, Reza Pahlavi, menyatakan kekecewaannya atas kegagalan tekanan militer AS-Israel menumbangkan rezim Teheran, lalu terang-terangan menyerukan rakyat Iran mengambil tindakan dari dalam.

Reza Pahlavi tidak menyembunyikan rasa frustrasinya.

Putra mendiang Shah Iran Mohammad Reza Pahlavi itu angkat bicara soal kekecewaannya terhadap perkembangan geopolitik kawasan. Puluhan tahun hidup dalam pengasingan di Amerika Serikat rupanya tidak memadamkan ambisinya. Ia menyesalkan bahwa serangkaian tekanan militer gabungan AS dan Israel, termasuk serangan langsung terhadap fasilitas-fasilitas strategis Iran, gagal menjadi katalis yang ia nantikan: runtuhnya rezim Republik Islam.

Kekecewaan itu ia wujudkan bukan dengan diam. Pahlavi menyerukan warga Iran di dalam negeri untuk bangkit dan melakukan pergantian kekuasaan dari dalam, framing yang oleh sebagian kalangan dibaca sebagai ajakan kudeta terselubung. Keras? Sudah pasti. Tapi bagi orang yang puluhan tahun melobi dari jauh, ini agaknya eskalasi retorika yang sudah lama dipersiapkan.

Postur seperti ini bukan hal baru bagi Pahlavi. Ia sudah lama memosisikan diri sebagai figur oposisi utama Teheran, kerap hadir di forum-forum Barat dan melobi pejabat AS maupun Israel. Bedanya, seruan kali ini jauh lebih eksplisit. Momentumnya pun bukan kebetulan: tepat setelah gencatan senjata mulai meredam eskalasi di kawasan.

Gencatan senjata itulah yang ia sesalkan. Datang terlalu cepat, kata Pahlavi, justru di saat tekanan terhadap Teheran sedang di titik tertinggi. Ia percaya rezim Iran tengah dalam posisi rapuh, dan jeda tembak ini memberi Teheran ruang napas yang seharusnya tidak perlu diberikan. Pertanyaannya, apakah penilaian itu akurat, atau sekadar narasi dari seseorang yang berkepentingan melihat rezim itu ambruk?

Reaksi yang muncul pun terbelah. Komunitas diaspora Iran di Barat menyambut seruan Pahlavi dengan antusias. Para analis, sebaliknya, mengingatkan bahwa ajakan "revolusi dari dalam" yang datang dari figur berbasis luar negeri, apalagi yang secara terbuka berafiliasi dengan kepentingan Washington dan Tel Aviv, justru bisa berbalik merugikan di dalam negeri Iran sendiri. Legitimasi, bagaimanapun, tidak bisa dipesan dari jauh.

Seberapa jauh suara Pahlavi benar-benar terdengar di kalangan warga Iran yang masih hidup di bawah rezim? Belum ada jawaban yang meyakinkan. Mungkin itulah pertanyaan paling mendasar yang justru paling jarang dibahas.

Situasi politik Iran memang sedang tidak biasa. Tekanan eksternal intens selama beberapa bulan terakhir, ditambah jepitan sanksi ekonomi yang makin dalam, menciptakan kondisi domestik yang semakin tegang. Tapi rezim yang sudah bertahan lebih dari empat dekade ini terbukti ulet, bak tembok yang sudah terbiasa ditabrak dari dua arah sekaligus.

Seruan Pahlavi, keras atau tidak, untuk saat ini masih jauh lebih nyaring di Washington dan Tel Aviv ketimbang di jalanan Teheran.