SABTU, 17 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Retorika Balas Dendam Iran: Propaganda atau Ancama...

Internasional

Retorika Balas Dendam Iran: Propaganda atau Ancaman Nyata?

Sejak pemakaman Ayatollah Ali Khamenei, para pejabat Iran terus memompa narasi pembalasan, dari sidang parlemen yang diwarnai bendera merah hingga billboard bergambar keluarga Trump di dalam peti mati.

Anggota parlemen Iran mengenakan seragam Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di sidang parlemen.

Bendera merah bertuliskan seruan balas dendam berkibar di dalam gedung parlemen Iran. Lebih dari 180 dari 290 anggota majelis hadir dalam sidang tatap muka pertama sejak perang meletus, dan mayoritas dari mereka menuntut pembalasan atas kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Itu baru satu adegan. Dari serangkaian manuver propaganda yang semakin masif dilancarkan Teheran dalam beberapa pekan terakhir, adegan parlemen itu justru yang paling mudah dibaca. Di jalanan ibu kota, billboard bergambar keluarga Donald Trump di dalam peti mati dipasang terbuka, isyarat yang sulit dibaca sebagai sekadar ekspresi duka. Surat kabar konservatif Hamshahri, yang dikenal dekat dengan IRGC, menerbitkan daftar 13 figur Barat dengan tajuk "Pembalasan Tak Terelakkan" pada Sabtu (11/07). Nama-namanya bukan sembarangan: menteri luar negeri, menteri pertahanan, Komandan CENTCOM AS, sampai Kanselir Jerman Friedrich Merz.

Pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, putra mendiang Ayatollah, mempertegas nada itu. Alih-alih bicara rekonsiliasi atau pemulihan pascaperang, pernyataan yang dirilis atas namanya berbunyi keras: "Kami bersumpah akan membalas darah sucimu dan darah seluruh syuhada dalam dua perang ini terhadap para pembunuh yang kriminal dan tidak terhormat."

Seberapa serius ancaman ini?

Moein Khazaeli, pakar hukum sekaligus peneliti hak asasi manusia, memilih berhati-hati. "Ancaman-ancaman ini tidak bisa begitu saja dianggap sebagai retorika politik," katanya kepada DW. "Namun, pada saat yang sama, penting untuk membedakan antara kemampuan, niat, dan kemungkinan nyata untuk melaksanakan ancaman tersebut." Sebagian besar ancaman, menurutnya, berfungsi sebagai perang psikologis sekaligus strategi penangkalan: cara rezim menampilkan aparatur militer dan keamanannya yang sedang melemah seolah masih berdiri kokoh. Rekam jejak operasi luar negeri Republik Islam, bagaimanapun, membuat ancaman semacam ini tidak bisa sepenuhnya dikesampingkan.

Aktivitas ini juga punya fungsi ke dalam. Reza Alijani, aktivis politik Iran, menilai seluruh upacara berkabung dan retorika balas dendam dirancang untuk memperlihatkan konsolidasi dukungan terhadap rezim, mengalihkan perhatian publik dari kemunduran militer, sekaligus memberi legitimasi bagi kelanjutan konflik atas nama para martir. "Bagi sebagian basis pendukungnya, narasi ini masih dipercaya dan terus diperkuat melalui propaganda negara," kata Khazaeli, yang juga mencatat bahwa Teheran sejatinya sedang memainkan dua papan catur sekaligus.

Sasaran eksternalnya tidak kalah luas. Pemerintah Barat, jurnalis Iran di pengasingan, aktivis hak asasi manusia, kelompok oposisi diaspora, semuanya masuk radar. Betapa dalamnya tekanan psikologis ini tecermin dari respons media pemerintah terhadap kabar kematian Senator Partai Republik AS Lindsey Graham. Televisi pemerintah dan kanal-kanal Telegram prokrezim menyambut berita itu dengan nada puas, ada yang terang-terangan mengucapkan selamat. Graham memang dikenal sebagai salah satu pendukung paling vokal kebijakan "tekanan maksimum" terhadap Iran dan berulang kali menyerukan opsi militer.

Dari Teheran, pesannya agaknya sudah cukup jelas: rezim ini, meski dihajar keras, belum merasa perlu mengubah nada bicaranya. Apakah retorika itu berujung aksi nyata, atau sekadar bahan bakar untuk konsumsi domestik, itulah yang kini sedang dihitung ulang oleh banyak ibu kota di Barat.