MINGGU, 11 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Ray Dalio: Rusia dan China Pemenang Sejati Konflik...

Internasional

Ray Dalio: Rusia dan China Pemenang Sejati Konflik AS-Israel vs Iran

Pendiri Bridgewater Associates Ray Dalio menyebut Rusia dan China sebagai pihak yang paling diuntungkan dari konflik AS-Israel melawan Iran, baik secara ekonomi maupun geopolitik.

Bukan Washington. Bukan Tel Aviv. Dan sudah pasti bukan Teheran.

Ray Dalio, pendiri Bridgewater Associates sekaligus salah satu investor paling disegani di Wall Street, punya jawaban yang tak banyak orang berani ucapkan terang-terangan: Rusia dan China adalah pihak yang paling banyak menangguk keuntungan dari konflik bersenjata AS-Israel melawan Iran.

Bukan kemenangan militer. Yang Dalio maksud adalah keuntungan ekonomi dan postur geopolitik. Sementara AS dan sekutunya terkuras biaya perang, Moskow dan Beijing cukup nonton dari pinggir lapangan sambil mempererat cengkeraman di wilayah-wilayah yang selama ini luput dari radar Washington.

Tapi bukan itu yang paling mengusik Dalio. Yang lebih merisaukan baginya adalah cara konflik ini dibaca para pembuat kebijakan di Washington. Ada kecenderungan memperlakukan perang Iran seolah krisis yang terkendali, seolah ada titik penyelesaian yang bisa dicapai dengan cukup tekanan militer dan sedikit diplomasi.

Salah besar.

Apa yang tengah berlangsung, dalam kerangka berpikir Dalio, bukan sekadar perang regional yang bisa diisolasi. Ini serpihan dari keruntuhan tatanan global yang jauh lebih besar, yang polanya, kalau dicermati jujur, nyaris identik dengan kondisi-kondisi yang mendahului perang-perang besar dalam sejarah modern. Bukan anomali. Bukan kecelakaan sejarah. Pola lama yang berulang, entah kebetulan atau tidak.

Kerangka "changing world order" yang Dalio populerkan bertahun-tahun sebelum konflik ini pecah kini terasa seperti peta yang sudah digambar jauh sebelum medan perangnya terbentuk. Ia memang sudah lama membangun reputasi sebagai pembaca siklus panjang sejarah, dan pernyataannya soal Iran bisa dibaca sebagai konfirmasi dari tesis itu: setiap konflik regional di era ini tidak berdiri sendiri.

Semuanya bagian dari papan catur yang sama. Pertanyaannya, apakah Washington benar-benar melihat papan itu, ataukah cuma fokus pada satu bidaknya?