SELASA, 13 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Ratko Mladic, Terpidana Genosida Bosnia, Meninggal...

Internasional

Ratko Mladic, Terpidana Genosida Bosnia, Meninggal di Penjara Den Haag

Jenderal Serbia Ratko Mladic, yang menjalani hukuman seumur hidup atas genosida dan kejahatan perang di Bosnia 1992-1995, meninggal di Unit Penahanan PBB di Den Haag pada usia 84 tahun. Kematiannya membelah opini: penyintas berduka dengan cara yang berbeda, sementara nasionalis Serbia menyebutnya dibunuh.

Obituary: Ratko Mladic, war criminal convicted of Srebrenica genocide, dies

Ratko Mladic akhirnya meninggal dunia, Kamis (27/8/2026), di dalam sel Unit Penahanan PBB di Den Haag, Belanda. Usianya 84 tahun, dan ia meninggal bukan sebagai jenderal yang dimuliakan, melainkan sebagai terpidana seumur hidup atas genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan kejahatan perang yang ia lakukan di Bosnia dan Herzegovina sepanjang 1992 hingga 1995.

Berita kematiannya meledak di media sosial dan memicu perpecahan yang mencerminkan luka yang belum benar-benar sembuh di kawasan Balkan. Para penyintas Bosnia dan keluarga korban mengingat ribuan nyawa yang melayang. Sebaliknya, sebagian kalangan di Serbia, termasuk media propemerintah di Beograd, meratapi kepergiannya dan menuding pengadilan PBB sebagai biang keladi.

Klaim "dibunuh" itu bukan frasa biasa. Politisi nasionalis Serbia menggemakan narasi bahwa Mladic sengaja ditahan di Den Haag meski kesehatannya terus memburuk, alih-alih dipulangkan ke Beograd untuk mendapat perawatan medis, seperti yang berulang kali dimohonkan pengacaranya. "Dari Gavrilo Princip hingga Ratko Mladic, orang-orang Serbia terbaik dibunuh saat ditahan," kata Aleksandar Vulin, mantan Menteri Dalam Negeri sekaligus mantan Kepala Badan Intelijen Keamanan Serbia.

Narasi yang jauh berbeda datang dari Srebrenica. Camil Durakovic, mantan wali kota Srebrenica sekaligus Wakil Presiden Republika Srpska saat ini, yang pada 1995 berhasil kabur dari genosida dengan berjalan kaki, menyampaikan sesuatu yang lebih menusuk dari sekadar kemarahan. "Lebih dari segalanya, kami merasakan kepedihan karena ia hidup hingga usia lanjut sementara ribuan orang lain, sayangnya, tidak," kata Durakovic. Kalimat itu merangkum ironi yang selama ini dirasakan para penyintas: Mladic bertahan beberapa dekade lebih lama dari korban-korbannya sendiri.

Beberapa politisi oposisi Serbia mengambil sikap berbeda, secara tegas menyebut Mladic sebagai penjahat perang yang terbukti bersalah dan layak menerima hukumannya. Suara itu, agaknya, tenggelam di bawah gempuran narasi nasionalis yang jauh lebih keras dan lebih riuh.

Mladic memang sudah lama dihajar penyakit serius. Selama bertahun-tahun, petugas medis di fasilitas penahanan PBB merawatnya, sebuah ironi pahit mengingat ribuan korbannya tidak pernah mendapat kesempatan serupa. Vonis seumur hidup dijatuhkan kepadanya setelah proses hukum panjang yang melelahkan di Mahkamah Pidana Internasional untuk Bekas Yugoslavia, yang kemudian dilanjutkan Mekanisme Residual PBB.

Kematian Mladic tidak akan mengakhiri perdebatan tentang perang Bosnia. Perpecahan dalam cara dunia mengingatnya, sebagai penjahat perang atau pahlawan militer, adalah cermin retak dari konflik identitas di Balkan yang belum juga tuntas. Bagi ribuan keluarga korban Srebrenica dan kota-kota lain di Bosnia, pertanyaannya bukan siapa Mladic, melainkan mengapa dunia butuh waktu terlalu lama untuk menghentikannya.