RABU, 14 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Rafizi Bentuk Partai Baru, Anwar Ibrahim Hadapi Uj...

Internasional

Rafizi Bentuk Partai Baru, Anwar Ibrahim Hadapi Ujian Soliditas PKR

Mantan Menteri Ekonomi Rafizi Ramli resmi hengkang dari PKR dan mengambil alih kepemimpinan Partai Bersama, menarik ribuan kader akar rumput. Anwar Ibrahim kini menghadapi ujian terberat menjaga kohesi internal menjelang spekulasi pemilu dini.

Malaysia's Anwar becomes prime minister, ending decades-long wait | CNN

Rafizi Ramli akhirnya benar-benar pergi. Mantan Menteri Ekonomi Malaysia itu keluar dari Partai Keadilan Rakyat (PKR), lalu langsung mengambil alih kepemimpinan Partai Persatuan Malaysia, yang lebih dikenal sebagai Partai Bersama, eh, maaf: kendaraan politik baru yang kini mulai menyedot perhatian publik Negeri Jiran.

Partai Bersama mengklaim sudah menerima lebih dari 18.000 pendaftaran anggota baru. Sekitar sepertiga dari angka itu disebut berasal dari mantan kader PKR sendiri. Mayoritas memang bukan petinggi partai, melainkan pengurus daerah dan aktivis akar rumput. Justru di situlah letak persoalannya: mesin politik di tingkat bawah adalah tulang punggung pemenangan pemilu. Kehilangan mereka bukan angka, itu infrastruktur.

Bagi Perdana Menteri Anwar Ibrahim, ini bukan drama perpecahan biasa. Rafizi bukan orang asing, bukan pula lawan lama. Ia salah satu tokoh yang bertahun-tahun berdiri di sisi Anwar, bagian dari narasi panjang perjuangan reformasi yang akhirnya berbuah kemenangan pada November 2022. Kepergiannya membawa konteks yang jauh lebih tajam dibanding sekadar angka keanggotaan.

Anggota Parlemen PKR Hassan Abdul Karim terbuka mengakui ada gelombang kader yang hengkang dari partai, dan menyebutnya sebagai peringatan yang harus ditanggapi serius. Hassan menilai Partai Bersama punya potensi nyata untuk merebut simpati pemilih muda, kelompok mengambang, dan mereka yang frustrasi dengan lambatnya agenda reformasi serta tata kelola pemerintahan.

Pimpinan PKR membantah keras. Sekjen Fuziah Salleh menegaskan partai masih stabil dan exodus kader belum memberikan dampak berarti. Kepala Informasi PKR Fahmi Fadzil bahkan mengklaim partai justru mencatatkan tambahan sekitar 5.000 anggota baru dalam dua bulan terakhir, dengan total basis keanggotaan yang diklaim sudah melampaui satu juta orang. Angka yang, kalau data ini bisa dipercaya, patut dicermati.

Dua juta lebih kader diklaim, eksodus ribuan orang diakui. Paradoks yang khas politik.

Posisi Anwar di level koalisi memang belum goyah. Pemerintahannya masih mengantongi mayoritas kursi di parlemen, dan pemilu berikutnya baru dijadwalkan 2028. Tapi spekulasi soal pemilu dini mulai beredar di kalangan pengamat. Bahan bakar berbahaya, kalau tidak dikelola dengan cermat.

Bridget Welsh, pengamat politik dari University of Nottingham Asia, menilai kemampuan Anwar membaca dan mengelola dinamika internal akan jadi penentu. Persepsi publik soal retakan di tubuh PKR, menurut Welsh, bisa menular ke kepercayaan terhadap kepemimpinan nasionalnya.

Pertanyaannya sederhana, tapi jawabannya tidak: apakah ini sekadar gesekan wajar setelah partai lama berkuasa, atau tanda bahwa narasi reformasi yang dulu jadi senjata andalan Anwar mulai kehilangan daya tariknya? Lebih dari dua tahun memimpin, dan ujian terberat agaknya bukan datang dari oposisi. Melainkan dari mereka yang dulu berjuang bersamanya.