KAMIS, 1 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  QRIS di Banyumas Raya: 112 Juta Transaksi, Hackath...

Ekonomi

QRIS di Banyumas Raya: 112 Juta Transaksi, Hackathon, dan Tap NFC yang Mulai Merambah Layanan Publik

Volume transaksi QRIS di Banyumas Raya tembus 112,5 juta dalam enam bulan pertama 2026, tumbuh 278% yoy. Di sisi lain, BI terus mendorong inovasi lewat QRIS Tap berbasis NFC dan program Hackathon untuk memperluas ekosistem digital di daerah.

BI Purwokerto terus memperluas QRIS untuk perkuat ekonomi digital daerah - ANTARA News Jateng

Sepanjang Januari hingga Juni 2026, transaksi QRIS di Banyumas Raya mencatat volume kumulatif 112.571.254 transaksi dengan nilai Rp8,577 triliun. Pertumbuhan volumenya menyentuh 278,06 persen secara tahunan. Angka yang tidak main-main.

Khusus Juni, tercatat 26,43 juta transaksi senilai Rp1,74 triliun, tumbuh 181,72 persen yoy dari sisi nominal. Jumlah merchant aktif di empat kabupaten, yaitu Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara, kini mencapai 627.115. Kepala KPwBI Purwokerto Aswin Gantina menyebut capaian ini memperlihatkan penggunaan sistem pembayaran digital yang semakin meluas dan mulai menjadi bagian penting dari aktivitas ekonomi masyarakat.

Yang agaknya lebih menarik dari deretan angka itu adalah bagaimana BI Purwokerto menjangkau segmen yang selama ini dianggap sulit diedukasi soal digital. Edukasi dan aktivasi menyasar lansia, komunitas wanita perbankan, santri pesantren, hingga pramuka. Salah satu program yang paling di luar pakem konvensional adalah Purwokerto QRIS Run 2026, event lari yang diikuti lebih dari 6.000 pelari dan berhasil mencatat Rekor MURI. Bukan cara biasa untuk kampanye inklusi keuangan, dan justru itulah poinnya.

Di sisi inovasi, BI Purwokerto meluncurkan Hackathon 2026. Sejak dibuka pada Juni, sekitar 57 tim mengikuti proses kurasi sebelum enam tim masuk tahap final. Para finalis mengembangkan aplikasi berbasis solusi QRIS, termasuk konsep "Zona QRIS" yang dirancang untuk memetakan tingkat adopsi dan potensi ekonomi per wilayah di Banyumas Raya. Analis Yunior KPwBI Purwokerto Ana N. Faizah menjelaskan bahwa peta ini akan membantu OPD dan BI mengidentifikasi kantong-kantong dengan penetrasi QRIS yang masih rendah, lalu menyesuaikan program akseptasinya. Wilayah pesisir Cilacap, yang basis ekonominya bertumpu pada sektor kelautan, bisa disasar lewat program khusus bagi para nelayan, misalnya.

Satu lini lain yang sedang dikebut: QRIS Tap berbasis NFC. Di Banyumas, teknologi ini sudah masuk ke layanan Trans Banyumas. Di Banten, ceritanya lebih masif. Hingga Juni 2026, pengguna QRIS di Banten mencapai 3,7 juta dengan 2,9 juta merchant, menempatkan provinsi itu sebagai daerah dengan jumlah merchant QRIS terbesar kelima di Indonesia. Kepala BI Banten Sofwan Kurnia menyebut QRIS Tap sebagai salah satu fokus inovasi dalam Pekan QRIS Nasional 2026, yang berlangsung 11-16 Agustus, dengan pengembangan yang mengarah ke layanan publik hingga pembayaran pajak daerah.

Evolusi QRIS sendiri sudah jauh melampaui pemindaian kode QR statis. Dari Merchant Presented Mode ke Customer Presented Mode, lalu QRIS Tuntas untuk tarik tunai via ATM menggunakan ponsel, hingga transaksi lintas negara dan QRIS Tap via NFC, roadmap-nya jelas tidak sederhana. Pertanyaannya tinggal satu: seberapa cepat adopsi di lapisan masyarakat paling bawah bisa mengimbangi kecepatan inovasinya?