Ketika Washington mengumumkan paket sanksi ekonomi paling agresif yang pernah diarahkan ke Teheran, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memilih merespons bukan lewat jalur diplomatik, tapi lewat cuitan di X yang langsung menghantam titik paling sensitif dari citra politik Donald Trump.
"Make America Hungry Again." Empat kata. Ghalibaf memposting gambar bergaya kampanye dengan slogan yang jelas-jelas meniru MAGA, dilengkapi sederetan data soal kelaparan dan kerawanan pangan di Amerika Serikat. Bukan angka sembarangan, semuanya bersumber dari lembaga internasional dan institusi Amerika sendiri.
Angkanya keras. Sekitar 47 juta warga Amerika menghadapi kelaparan atau kerawanan pangan. Satu dari delapan orang berjuang untuk makan setiap harinya. Sekitar 16 juta anak-anak hidup dalam kemiskinan struktural, dengan kebutuhan dasar yang tidak terpenuhi. Ghalibaf menekankan bahwa ini bukan persoalan pedesaan terpencil, melainkan fenomena yang menjangkau kota-kota besar Amerika.
Konteksnya tidak bisa dilepaskan dari apa yang terjadi sehari sebelumnya. Trump membagikan klip dari laporan Newsmax di Truth Social, yang secara tidak akurat mengutip Ghalibaf seolah pejabat Iran itu mengakui negaranya sedang kelaparan dan tidak mampu bertahan. Parlemen Iran langsung membantah penyajian itu dan menuding Trump mendistorsi pernyataan Ghalibaf. Balasan lewat X tersebut, agaknya, cara paling telak untuk menutup kontroversi.
"Angka-angka ini tidak palsu seperti gertakan dan berita palsumu. Kamu tidak dapat menutupi kekalahanmu menghadapi Iran dengan kebohongan," tulis Ghalibaf, tanpa menyebut nama Trump secara eksplisit tapi jelas ke siapa kalimat itu ditujukan.
Serangan verbal ini muncul bersamaan dengan pengumuman besar dari Menteri Keuangan AS Scott Bessent. Pada Senin (24/8/2026), Bessent mengumumkan kampanye tekanan ekonomi baru yang secara gamblang menargetkan seluruh sumber pendapatan Iran, dari ekspor minyak hingga jaringan perdagangannya. "Tujuan kami adalah memutus setiap jalur ekonomi yang menopang rezim tirani ini sampai Teheran benar-benar sendirian," ungkap Bessent, seraya memperingatkan bahwa mitra dagang Iran pun rentan terhadap sanksi sekunder. Tidak ada yang kebal, tegasnya.
Trump sendiri sudah lebih dulu menyebut kebijakan ini sebagai "operasi ekonomi paling menghancurkan yang pernah dilakukan terhadap negara mana pun" dan menggambarkannya sebagai "perang ekonomi dan isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya." Retorika yang besar. Pertanyaannya, seberapa besar dampak nyatanya?
Umud Shokri, ahli strategi dan peneliti tamu senior di Universitas George Mason, Virginia, menilai sanksi-sanksi itu mungkin tidak akan bergigit sekuat yang dibayangkan Washington. Iran, menurutnya, sudah cukup terlatih menghadapi tekanan model ini. "Iran telah belajar bagaimana bertahan hidup di bawah tekanan, meskipun bertahan hidup tidak sama dengan menghindari kerusakan ekonomi," katanya kepada Al Jazeera. Nuansa penting yang kerap luput dari narasi kemenangan di Washington.
Bahwa ada kerusakan nyata di dalam negeri Iran, itu fakta. Rial Iran mencatat rekor terburuknya pada Senin, menembus 2,03 juta rial per dolar AS di pasar terbuka Teheran. Daya beli rakyat terkikis. Tapi justru di momen paling tertekan inilah petinggi Teheran memilih unjuk gigi secara retorika. Bukan main.
Ketegangan kedua negara ini bukan lahir kemarin. AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada akhir Februari 2026, Teheran membalas dengan menyerang Israel dan aset militer AS. Gencatan senjata tercapai di April, nota kesepahaman soal Selat Hormuz ditandatangani pertengahan Juni, tapi implementasinya mandek. AS kembali menyerang di bulan berikutnya, Iran membalas lagi dengan menarget fasilitas militer AS di negara-negara Arab. Siklus yang belum jelas ujungnya.
Di atas semua itu, perang kata-kata di media sosial antara Ghalibaf dan Trump bisa jadi hanya sideshow. Tapi dalam politik simbolik, sideshow kadang lebih bermakna dari sidang diplomatik mana pun.