Sepanjang 2025, China membeli 100,72 juta metrik ton minyak dari Rusia, setara seperlima dari total impor minyak negeri itu. Angka yang tidak main-main.
Presiden Rusia Vladimir Putin tiba di Beijing pada Rabu (20/05), disambut agenda padat yang mencerminkan betapa dalamnya ketergantungan ekonomi Moskow pada Beijing sejak sanksi Barat memutus akses Rusia ke pasar energi Eropa. Pertemuan dengan Presiden Xi Jinping di Great Hall of the People bukan sekadar seremoni diplomatik, melainkan sesi negosiasi bisnis berskala negara, dengan nilai kontrak yang bisa melampaui imajinasi kebanyakan pelaku pasar.
Dorongan untuk menyelesaikan kerangka proyek Power of Siberia 2 menjadi salah satu agenda terpanas. Pipa sepanjang 2.600 kilometer ini dirancang mengalirkan 50 miliar meter kubik gas per tahun dari ladang Arktik di Yamal, melewati Mongolia, menuju daratan China. Proyek ini sudah lama tertahan karena sengketa harga, meski dalam pertemuan September lalu Putin menegaskan formula harga akan mengacu pada mekanisme pasar serupa ekspor gas ke Eropa. China, hingga kini, masih enggan memberi pernyataan publik soal proyek tersebut. Diam yang bisa dibaca sebagai tekanan negosiasi.
Power of Siberia 1 sendiri sudah beroperasi, mengalirkan 38 miliar meter kubik gas lewat pipa 3.000 kilometer berdasarkan kontrak 30 tahun senilai US$400 miliar, sekitar Rp7.083 triliun, yang dimulai pada 2019. Bagi Moskow, melengkapi jaringan ini bukan pilihan. Ini kebutuhan strategis.
Ushakov, penasihat kebijakan luar negeri Putin, menyebut kedua pemimpin akan meneken sekitar 40 dokumen, mencakup kerja sama industri, perdagangan, transportasi, hingga konstruksi. Keduanya juga dijadwalkan menandatangani pernyataan bersama tentang tatanan dunia "multipolar", framing geopolitik yang sudah lama dipromosikan Beijing sebagai antitesis dominasi Barat.
Sentimen kemitraan ini turut terbaca di pasar. Rubel menguat ke level tertinggi, sebagian terdorong narasi de-dolarisasi yang semakin nyata dalam transaksi bilateral Rusia-China. Ketika dua ekonomi besar memilih denominasi non-dolar dalam volume perdagangan yang terus membesar, dampaknya terhadap nilai tukar rubel tidak bisa diabaikan. Pertanyaannya, berapa lama momentum ini bertahan?
Xi dalam dialognya dengan Putin menyinggung konflik Timur Tengah. "Berakhirnya permusuhan dengan segera akan membantu mengurangi hambatan dalam mewujudkan pasokan energi yang stabil, kegiatan produksi dan rantai pasok tanpa gangguan, serta perdagangan internasional," kata Xi, sebagaimana disiarkan CCTV. Agaknya bukan sekadar kepedulian kemanusiaan, China adalah konsumen energi terbesar dunia dan setiap guncangan di jalur Selat Hormuz langsung terasa di Beijing.
Kanselir Jerman Friedrich Merz berharap Xi memanfaatkan momentum ini untuk mendesak Putin mengakhiri perang di Ukraina. "Kami tidak berharap ada perubahan mendasar dalam hubungan strategis Rusia dan Cina pada tahap ini," kata Merz kepada kantor berita DPA. "Namun kami tentu berharap kunjungan ini juga dimanfaatkan Presiden Xi untuk mendesak Presiden Putin mengakhiri perang di Ukraina, perang yang tidak bisa ia menangkan." Harapan yang, kalau data ekonomi ini bisa dijadikan cermin, tampak sulit terwujud dalam waktu dekat.
Ekspor minyak Rusia ke China naik 35% di kuartal pertama 2026 menjadi 31 juta ton. Malam itu Putin duduk di jamuan kenegaraan yang digelar Xi untuk memperingati 25 tahun perjanjian persahabatan bilateral. Perang di Ukraina masih berlangsung. Sanksi Barat masih berlaku. Dan Rusia semakin dalam memeluk satu-satunya mitra besar yang tidak pergi.