MINGGU, 27 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Putin Siap Temui Zelensky, Kremlin Dinginkan Speku...

Internasional

Putin Siap Temui Zelensky, Kremlin Dinginkan Spekulasi Kunjungan Trump ke Moskow

Di tengah sinyal positif dari Kyiv soal format pembicaraan damai, Kremlin menegaskan belum ada agenda kunjungan Presiden AS ke Rusia. Proses diplomasi tetap berjalan, tapi jalannya masih berliku.

Zelensky Sebut Format Pertemuan dengan Putin Telah Dibahas Bersama AS

Kremlin membasahi ekspektasi yang mulai memanas. Juru bicara Presiden Rusia Dmitry Peskov menegaskan tidak ada agenda kunjungan Presiden Donald Trump ke Moskow dalam waktu dekat, mengendurkan spekulasi yang sempat beredar seiring intensifikasi diplomasi dalam beberapa pekan terakhir.

Sinyal dari Kyiv, ironis, justru terdengar lebih konstruktif.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengungkapkan bahwa pihaknya tengah membahas format pembicaraan langsung dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, termasuk kemungkinan pertemuan di tingkat kepemimpinan yang ia sebut sebagai upaya "mengakhiri perang Rusia." Kepala negosiator Ukraina Rustem Umerov memberi pengarahan kepada Zelensky setelah bertemu perwakilan Presiden AS Steve Witkoff dan Jared Kushner di Miami pekan lalu.

Pembicaraan di Miami itu berfokus pada perlunya mengintensifkan proses diplomatik dan mengkoordinasikan langkah konkret menuju perdamaian. "Yang penting, Amerika tetap terlibat dalam diplomasi dan, khususnya, telah bertindak sebagai mediator dalam masalah pertukaran tahanan," tulis Zelensky di X.

Bukan sekadar retorika.

Beberapa hari setelah pertemuan itu, Trump mengumumkan Rusia dan Ukraina telah menyepakati gencatan senjata tiga hari dan pertukaran tahanan dengan rasio 1.000 berbanding 1.000. Langkah yang ia gambarkan sebagai pembuka jalan potensial menuju penghentian perang. Trump juga menyebut kontak Washington dengan kedua pihak sedang berjalan "pada tingkat yang tepat."

Sehari kemudian Putin menyatakan siap bertemu Zelensky di negara ketiga mana pun. Tapi ada syaratnya: pertemuan itu hanya untuk menandatangani perjanjian perdamaian final, bukan memulai negosiasi dari nol.

Dua ibukota, dua tempo yang berbeda. Washington mendorong, Kyiv merespons, Moskow mengatur ritme sesuai keinginannya sendiri.

Proses negosiasi Kyiv-Moskow dilaporkan mengalami perlambatan dalam beberapa bulan terakhir, sebagian karena perhatian dunia tersedot oleh tensi Iran-AS-Israel yang memanas. Agaknya, jendela diplomatik ini terbuka bukan semata karena kedua pihak sudah sepakat, melainkan karena tekanan dari Washington yang terus meningkat.

Pertanyaannya sekarang: seberapa jauh Putin mau bergerak dari posisi minimalnya, dan apakah Zelensky bisa menjual format apapun kepada publik dalam negeri yang sudah empat tahun menanggung beban perang?