JUMAT, 25 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Produksi Padi April-Juni 2026 Diprediksi Anjlok 18...

Ekonomi

Produksi Padi April-Juni 2026 Diprediksi Anjlok 18,31%, Alarm bagi Ketahanan Pangan

BPS memproyeksikan produksi padi kuartal kedua 2026 turun 18,31 persen secara tahunan menjadi 16,68 juta ton GKG, meski secara kumulatif semester I masih tipis positif.

Delapan belas persen. Bukan angka yang bisa dikesampingkan begitu saja.

BPS merilis proyeksi yang cukup mengganggu: produksi padi April hingga Juni 2026 diperkirakan hanya mencapai 16,68 juta ton gabah kering giling (GKG), anjlok 18,31 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Selisih absolutnya 1,51 juta ton GKG. Bukan hal kecil, terutama ketika tekanan pangan global belum juga reda.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyebut curah hujan sebagai salah satu biang keroknya. Berdasarkan analisis BMKG, curah hujan Maret 2026 di sebagian besar wilayah Indonesia masuk kategori menengah. Agaknya tidak cukup untuk mendukung budidaya padi secara optimal di sentra-sentra produksi utama.

Data lapangan memperkuat proyeksi itu. Luas panen padi Maret 2026 tercatat 1,61 juta hektare, turun 3,16 persen dari 1,67 juta hektare di Maret 2025. Produksinya 8,75 juta ton GKG, tergerus 3,69 persen secara tahunan. Untuk April-Juni, potensi luas panen diproyeksikan 3,16 juta hektare, susut 7,64 persen dari tahun lalu.

Ke beras sebagai komoditas konsumsi akhir, gambaran serupa. Produksi beras Maret 2026 diperkirakan 5,04 juta ton, turun sekitar 3,67 persen. Proyeksi beras April-Juni ikut terkoreksi sekitar 8,30 persen secara tahunan.

Satu angka yang sedikit meredam kepanikan: secara kumulatif semester I 2026, produksi beras nasional masih diproyeksikan naik tipis menjadi 19,31 juta ton, tumbuh 0,26 persen dari periode yang sama 2025. Produksi padi Januari-Juni 2026 juga diperkirakan mencapai 33,52 juta ton GKG, naik 0,26 persen. Kenaikan di kuartal pertama, dengan total luas panen Januari-Maret mencapai 3,11 juta hektare atau tumbuh 9,68 persen, cukup menutup kontraksi di kuartal kedua.

Tapi kenaikan kumulatif yang tipis itu bukan alasan untuk lega.

Pola yang terbaca dari data BPS justru mengisyaratkan tren yang bersifat temporer, bukan struktural. Kenaikan di awal tahun tidak berlanjut ke Maret hingga pertengahan 2026. Pola klasik yang memunculkan pertanyaan soal konsistensi capaian produksi, di tengah klaim swasembada yang gencar didengungkan pemerintah. Pertanyaannya, berapa lama tren positif ini bisa dipertahankan?

Ekonom Universitas Indonesia Ninasapti Triaswati menekankan pentingnya hal itu. "Pasokan pangan dan produksi khususnya beras sangat mempengaruhi stabilitas. Karena itu konsistensinya perlu dijaga," katanya.

Konteks makroekonominya tidak bisa diabaikan: pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2026 tercatat 5,61 persen YoY, dengan sektor pertanian berkontribusi 1,11 persen terhadap pertumbuhan nasional pada periode yang sama tahun sebelumnya. Guncangan di sektor padi bisa merambat ke mana-mana.

Ironi yang sulit dilewatkan begitu saja. Cadangan Beras Pemerintah diklaim menembus 5 juta ton pada April 2026, tapi harga beras di tingkat konsumen masih betah di kisaran Rp13.500 hingga Rp15.950 per kilogram. Harga produsen beras di penggilingan tercatat Rp14.585 per kilogram untuk jenis premium dan Rp13.298 per kilogram untuk jenis medium. Gabah di tingkat petani? Masih Rp5.000-6.500 per kilogram. Selisih yang, kalau data ini bisa dipercaya, mencerminkan rantai distribusi yang belum juga terurai.

Nilai Tukar Petani April 2026 pun turun tipis 0,09 persen menjadi 125,24. Sinyal kecil tapi berbicara: daya beli petani belum benar-benar menguat meski klaim produksi terus dilontarkan.

Jagung ikut melemah. Luas panen jagung Maret 2026 amblas 14,44 persen secara tahunan, produksi turun 14,23 persen menjadi 1,40 juta ton. Secara kumulatif Januari-Juni 2026, produksi jagung diproyeksikan menyusut 2,69 persen.

BPS sendiri mengingatkan semua angka proyeksi ini masih sangat dinamis. Serangan hama, banjir, kekeringan, hingga pergeseran waktu panen bisa mengubah realisasi di lapangan. Sentra produksi utama tetap terkonsentrasi di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat, dengan tambahan dari Lampung, Sumatera Selatan, dan Sulawesi Selatan.

Jika produksi memang surplus dan cadangan berlimpah, mengapa harga di warung belum juga turun?