SENIN, 19 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Presiden Lebanon Temui Trump, Bawa Proposal Tertul...

Internasional

Presiden Lebanon Temui Trump, Bawa Proposal Tertulis Pelucutan Hizbullah ke Gedung Putih

Joseph Aoun terbang ke Washington untuk pertemuan bersejarah dengan Trump, membawa proposal tertulis pelucutan senjata Hizbullah dan menuntut Israel tarik pasukan dari selatan Lebanon.

Menlu AS Bertemu Presiden Lebanon, Puji Upaya Lucuti Hizbullah

Hampir dua dekade berlalu sejak terakhir kali kepala negara Lebanon menginjakkan kaki di Gedung Putih, kunjungan Michel Sleiman ke Barack Obama pada 2009. Selasa ini, Presiden Lebanon Joseph Aoun memutus kekosongan itu dengan agenda yang tidak ringan: meyakinkan Donald Trump bahwa Lebanon serius melucuti Hizbullah, sekaligus menagih tekanan agar Israel angkat kaki dari wilayah selatan yang masih didudukinya.

Sebelum bertemu Trump, Aoun lebih dulu duduk semeja dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio di Departemen Luar Negeri pada Senin (20/7/2026). Rubio tidak pelit pujian. Ia mengapresiasi langkah Beirut atas "upaya gigih merebut kembali kedaulatan Lebanon, melucuti senjata Hizbullah, dan membongkar infrastruktur terorisnya." Washington, kata Rubio, berkomitmen mendukung implementasi Kerangka Kerja Trilateral serta pemulihan ekonomi Lebanon. Pujian yang hangat. Pelaksanaannya, soal lain.

Aoun datang tidak dengan tangan kosong. Para pejabat Lebanon menyebut ia akan menyerahkan proposal tertulis yang merinci tahapan konkret pelucutan senjata Hizbullah. Bukan sekadar dokumen diplomasi, ini sinyal bahwa Beirut paham apa yang Washington ingin dengar. Pejabat-pejabat Aoun meyakini hanya Trump yang punya cukup pengaruh untuk menekan Israel agar menarik pasukan, memungkinkan kedaulatan Lebanon dipulihkan secara nyata.

Kunjungan ini berlangsung dalam tekanan berlapis. Pasukan Israel masih bercokol di sebagian wilayah selatan Lebanon pasca-operasi militer besar-besaran yang dimulai Maret 2026, setelah Hizbullah menyerang Israel sebagai bentuk solidaritas terhadap Iran yang sedang dihajar AS dan Israel. Konflik itu menelan lebih dari 4.300 korban jiwa, termasuk hampir 800 anak-anak, perempuan, dan tenaga medis. Angka yang tidak main-main, dan sebagian besar dari mereka adalah warga sipil yang agaknya tidak punya urusan dengan kalkulasi geopolitik siapapun.

Situasi di lapangan memang keruh. Hizbullah menolak setiap pembicaraan pelucutan senjata maupun dialog langsung dengan Israel. Ratusan ribu warga Lebanon belum bisa pulang ke rumah mereka. Tepat sehari sebelum Aoun tiba di Washington, AS melancarkan serangan udara pada Minggu (19/7/2026) untuk "menghukum" Iran setelah jatuhnya korban militer AS pertama sejak permusuhan terbuka kembali menyulut perang Timur Tengah. Konteks yang tidak mudah buat siapapun yang datang membawa proposal perdamaian.

Aoun bukan nama baru di peta kekuasaan Lebanon. Pria 62 tahun ini menghabiskan puluhan tahun kariernya sebagai panglima militer yang didukung AS, dua kali terluka saat bertugas, dan hingga kini masih menyimpan serpihan peluru di tubuhnya. Ia terpilih sebagai presiden pada 2025, menandai pergeseran dramatis dalam politik Lebanon: serangan besar Israel pada 2024 melemahkan Hizbullah, sementara jatuhnya Bashar al-Assad di Suriah memotong jalur pasokan kelompok tersebut.

Saat dilantik, Aoun tegas: negara harus menjadi satu-satunya pihak yang berwenang atas kepemilikan senjata. Pada tahun pertama pemerintahannya, militer Lebanon berhasil mengamankan gudang senjata Hizbullah di selatan tanpa perlawanan berarti. Capaian yang tidak terbayangkan beberapa tahun sebelumnya. Namun gelombang kedua konflik mengacaukan momentum itu, bak gayung yang terlepas justru saat genggaman terasa paling erat.

Pertemuan Selasa ini adalah taruhan terbesar Aoun sejauh ini. Ia tahu Trump tidak tertarik retorika, ia butuh menawarkan sesuatu yang konkret dan menguntungkan Washington. Proposal tertulis pelucutan Hizbullah adalah kartunya. Pertanyaannya, seberapa keras Trump mau menekan Netanyahu untuk benar-benar menarik mundur pasukan? Kesepakatan 26 Juni lalu seharusnya sudah mengatur hal itu, tapi belum terlaksana.

Pertemuan pertama pemimpin Lebanon dengan presiden AS dalam 17 tahun. Waktu yang cukup lama untuk menumpuk masalah.