Kabar itu beredar cepat. Presiden Iran Masoud Pezeshkian disebut telah mengirim surat pengunduran diri ke kantor Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei, dan belum genap beberapa jam, Teheran sudah angkat bicara.
Laporan yang pertama kali dikutip Jerusalem Post itu menyebut Pezeshkian frustrasi karena Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) secara efektif mengambil alih porsi besar urusan pemerintahan, sementara presiden dan jajaran kabinet terpinggirkan dari pengambilan keputusan strategis. Sumber anonim dalam laporan itu menunjuk titik gesekan utama: soal pengelolaan cara perang dan dampak destruktifnya terhadap perekonomian serta kehidupan rakyat Iran.
Bantahan datang keras. Mehdi Tabatabaei, Wakil Kepala Komunikasi dan Informasi Kantor Presiden, menyebut laporan itu "palsu" dan bagian dari permainan media yang, kata dia, lebih mencerminkan angan-angan ketimbang kenyataan. Dalam unggahannya di platform X, Tabatabaei menulis, "Penyebaran rumor oleh jaringan asing yang tidak bereputasi ini kelanjutan dari permainan media konyol sebelumnya. Mereka telah menerbitkan angan-angan mereka sendiri sebagai pengganti kenyataan." Ia menutup dengan tegas: "Presiden Pezeshkian tidak akan mundur dari melayani rakyat, sebagaimana bangsa Iran tidak akan mundur dari jalan solidaritas dan perlawanan."
Kantor berita Tasnim, yang berafiliasi dengan IRGC, turut mengonfirmasi bahwa Pezeshkian tetap menjabat dan menjalankan tugasnya secara normal. Justru media terafiliasi IRGC-lah yang paling lantang membela presiden yang secara ironis disebut berkonflik dengan institusi yang sama. Entah kebetulan atau tidak, itu sinyal yang menarik untuk dicermati.
Tapi di balik bantahan keras itu, ada yang agaknya sulit diabaikan. Pezeshkian sendiri belakangan mengakui Iran sedang berada dalam situasi yang, pinjam katanya, "tidak normal dan tidak sederhana." Ia menekankan bahwa mengelola negara dalam kondisi sekarang membutuhkan koordinasi, dialog, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Ia juga mendorong media nasional untuk jujur menyampaikan kondisi dalam negeri kepada publik, termasuk soal keterbatasan yang dihadapi pemerintah. Pernyataan semacam itu, bagi sebagian analis, justru memberi konteks mengapa spekulasi pengunduran diri bisa beredar begitu cepat dan dipercaya.
Pezeshkian terpilih dengan mandat reformis, berjanji membuka keterlibatan lebih luas dengan komunitas internasional. Kenyataannya, ia mewarisi struktur kekuasaan yang sudah lama terfragmentasi antara otoritas sipil, IRGC, dan kantor Pemimpin Tertinggi. Ruang gerak presiden dalam sistem ini, secara historis, selalu sempit. Pertanyaannya, berapa lama seorang presiden reformis bisa bertahan di ruang yang sesempit itu?
Konteks ini penting, terutama karena perundingan nuklir antara Teheran dan Washington kabarnya masih berjalan. Sumber di Washington menyebut Presiden Donald Trump meminta penyesuaian sejumlah ketentuan dalam rancangan perjanjian sebelum menyetujui teks finalnya. Sementara itu, militer AS diam-diam mengoordinasikan transit sekitar 70 kapal kargo melalui Selat Hormuz selama tiga minggu terakhir. Operasi yang dijalankan CENTCOM itu berlangsung meski Washington secara resmi mengumumkan penangguhan operasi pengawalan terbuka di jalur pelayaran strategis tersebut.
Dua variabel sekaligus. Ketidakpastian politik internal Iran ditambah manuver senyap militer AS di Selat Hormuz adalah kombinasi yang, bagi investor dengan eksposur ke energi dan geopolitik Timur Tengah, layak lebih dari sekadar selintas pandang.