Peresmian Museum Marsinah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026), jadi panggung Presiden Prabowo Subianto menggemakan ulang visi ekonominya: negara kekeluargaan yang menjamin tidak ada warga tertinggal.
"Kita ini negara kekeluargaan. Yang kaya harus narik yang miskin. Yang kuat bantu yang lemah," kata Prabowo, langsung menyandingkan kalimat itu dengan Pasal 33 UUD 1945 sebagai pijakan konstitusional. Bukan retorika kosong, setidaknya begitu klaim presiden di hadapan para tamu undangan dan puluhan kamera.
Prabowo juga meluruskan stigma yang agaknya mulai beredar di kalangan pelaku usaha. Ia tegas menyatakan pemerintahannya tidak anti mekanisme pasar bebas, tapi bukan berarti negara akan duduk diam. "Sekali lagi tidak benar bahwa saya anti mekanisme pasar bebas. Saya tidak anti mekanisme pasar bebas, hanya saya mengerti bahwa pasar bebas bisa diselewengkan," ujarnya. Masyarakat miskin, kata dia, tidak bisa disuruh bersaing telanjang dengan pemodal besar tanpa intervensi negara. Kebijakan afirmatif, menurutnya, bukan pilihan, melainkan kewajiban konstitusional.
Konsep "Indonesia Incorporated" yang dia tawarkan kepada para pengusaha intinya satu: pengusaha besar diajak ikut membangun, bukan sekadar mengeruk. Prabowo secara khusus menyinggung kasus Marsinah, aktivis buruh yang hilang lalu ditemukan tewas setelah menjadi negosiator pemogokan akibat perusahaannya menolak menerapkan upah minimum dan otonomi serikat pekerja. Pesannya cukup jelas tanpa perlu ditafsirkan: pengusaha yang hanya mengejar laba maksimal bertentangan dengan dasar pendirian republik ini.
Soal janji konkret, Prabowo mengulang komitmen yang sebelumnya dia serukan saat perayaan May Day di Monas, 1 Mei 2026. Bank-bank milik negara diperintahkan menyalurkan kredit rakyat dengan bunga maksimal 5 persen per tahun. Ini bukan angka sembarangan. Prabowo sendiri yang menggambarkan realitanya: rakyat kecil selama ini kerap terjerat bunga rentenir hingga 70 persen setahun. Selisih 65 poin itu, kalau benar bisa diwujudkan lewat perbankan BUMN, memang bukan angka kecil.
Di sela pidato, Prabowo memuji peran TNI dan Polri dalam mendukung ketahanan pangan, mulai dari proses jagung, pengelolaan gudang, hingga operasional ratusan dapur program Makan Bergizi Gratis. Dengan nada setengah bercanda, ia membocorkan taktiknya: memuji Polri saat bertemu Panglima TNI, dan memuji TNI saat berhadapan dengan Kapolri, supaya keduanya terdorong bersaing memberikan yang terbaik. "Itu ilmu komandan itu," katanya sambil memperagakan gerakannya, disambut tawa.
Bagi investor, pertanyaan yang lebih relevan mungkin bukan soal filosofi kekeluargaan. Seberapa cepat janji bunga 5 persen itu bisa dieksekusi, dan apa imbasnya terhadap net interest margin bank-bank BUMN seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI)? Klaim yang masih perlu dibuktikan, tapi cukup untuk membuat pasar menahan napas menunggu detail kebijakannya.