Empat program, satu benang merah. Danantara, ketahanan pangan, Makan Bergizi Gratis, dan Koperasi Merah Putih, lahir dari rahim kebijakan yang sama: ekonomi. Tidak ada satu pun yang berbau ideologi, dan sepertinya memang begitu niatnya.
Asep Lukman membaca pola ini cukup jernih. Pegiat Tajdid Institute sekaligus Wakil Ketua Umum Kadin Jawa Barat itu menilai pemerintahan Presiden Prabowo Subianto secara sadar telah menggeser titik berat dari narasi kebangsaan ke persoalan yang lebih membumi: kebutuhan ekonomi rakyat. "Empat program unggulan ini semuanya ekonomi. Tidak ada lagi ideologi," tegasnya lewat unggahan video di media sosial yang beredar pekan ini.
Kalkulasi politiknya agaknya sederhana. Ketika tekanan kebutuhan masyarakat makin besar, narasi perut lebih mudah diserap publik ketimbang narasi prinsip. Asep menyebut bahwa hampir semua yang diprioritaskan dan dipublikasikan pemerintah saat ini bermuara ke satu kata: ekonomi.
Gejala serupa muncul di panggung global. Asep menunjuk Amerika Serikat sebagai cermin retak dari tren yang sama. Di era Donald Trump, pidato kepresidenan yang dulu sarat retorika demokrasi dan HAM kini berganti jadi litani soal tarif perdagangan. "Dulu presiden Amerika bicara demokrasi, HAM, nasionalisme. Sekarang Trump bicara tarif, tarif, tarif. Apa itu? Duit, ekonomi," ungkap Asep. Indonesia, dengan caranya sendiri, berjalan di rel yang tak jauh berbeda.
Bagi pelaku usaha dan investor ritel, ini sinyal yang patut dibaca lebih serius. Asep menyarankan agar masyarakat dan pengusaha tidak cukup hanya membaca kebutuhan di lapangan, tapi juga memahami ke mana penguasa mengarahkan kebijakannya. "Lihat peluang itu dari atas, dari kekuasaan. Apa maunya penguasa? Ikutlah menjadi bagian dalam ekosistem ekonomi yang lahir dari kebijakan," tuturnya. Ekosistem yang lahir dari kebijakan negara, kata Asep, justru ladang peluang terbesar yang kerap terlewatkan.
Fokus pada ekonomi bukan tanpa harga. Pemerintahan Prabowo mewarisi tekanan fiskal yang tidak ringan, defisit perlu dijaga ketat sementara program-program ambisius itu butuh amunisi anggaran yang tidak sedikit. Danantara masih dalam fase pembuktian. Program MBG masih jadi tanda tanya soal keberlanjutannya, setidaknya itu yang sering terdengar dari kalangan analis.
Pertanyaannya bukan lagi soal komitmen. Apakah semua program tadi cukup untuk mendongkrak angka pertumbuhan yang kian berat dicapai di kisaran 5 persen?