RABU, 30 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Prabowo Santai soal Rupiah: Rakyat Desa Tak Pakai...

Finansial

Prabowo Santai soal Rupiah: Rakyat Desa Tak Pakai Dolar

Di tengah pelemahan rupiah yang terus berlanjut, Presiden Prabowo Subianto justru mempertanyakan kepanikan yang ada. Ia menegaskan ekonomi Indonesia masih solid, didukung ketahanan pangan dan diplomasi bertetangga baik.

Prabowo Heran Ada yang Panik Rupiah Melemah: Indonesia Masih Oke

Rupiah terus tertekan, tapi Presiden Prabowo Subianto agaknya tidak mau ikut panik bersama kerumunan.

Saat meresmikan Museum Ibu Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026), Prabowo merespons narasi pelemahan rupiah yang belakangan ramai diperbincangkan dengan nada yang jauh dari khawatir. Ia justru heran kenapa ada pihak yang terus menebar skenario suram tentang ekonomi nasional. "Saya yakin sekarang ada yang selalu entah apa saya nggak mengerti ya, sebentar-sebentar Indonesia akan kolaps, akan chaos, akan apa... ya kan? Rupiah begini, dolar begini. Orang rakyat di desa nggak pakai dolar kok, ya kan?" ujarnya di hadapan hadirin.

Pernyataan itu langsung memantik perdebatan. Bagi sebagian kalangan, komentar Prabowo terasa menenangkan. Tapi bagi pelaku pasar dan pengusaha yang transaksinya memang bersinggungan langsung dengan dolar, kalimat itu bisa dibaca dari sudut yang berbeda.

Prabowo tidak berhenti di situ. Ketahanan pangan dan energi ia sebut sebagai dua pijakan utama yang membuat Indonesia tak goyah, meski banyak negara lain tengah kelabakan. "Pangan-energi aman ya. Banyak negara panik, Indonesia masih oke. Kita banyak, banyak yang diberikan Yang Mahakuasa," tegasnya. Klaim itu, kalau datanya bisa dipercaya, didukung angka yang cukup konkret: laporan dari Menteri Pertanian menyebut sejumlah negara besar antre membeli dari Indonesia. Australia memesan 500 ribu ton urea, Filipina, India, Bangladesh, hingga Brasil disebut masuk daftar pembeli.

Kalau datanya akurat, sinyal ini sebenarnya layak dapat perhatian lebih dari sekadar jadi bumbu pidato.

Sisi lain yang disinggung Prabowo adalah pendekatan diplomatik yang ia klaim menjadi penyangga stabilitas. Perjanjian dengan Singapura dan Vietnam yang bertahun-tahun mandek akhirnya diselesaikan, hubungan dengan China juga diklaim membaik. "Jadi saya perbaiki hubungan sama Singapura, perjanjian-perjanjian yang belasan tahun tidak diselesaikan kita selesaikan. Dengan Vietnam kita selesaikan. Sama Tiongkok kita perbaiki," kata Prabowo. "Good neighbor policy" ini, menurutnya, memberi ruang bagi Indonesia untuk fokus membangun dari dalam tanpa terganggu friksi eksternal.

Apakah argumen ini cukup meyakinkan pasar? Bisa jadi tidak. Nilai tukar rupiah bekerja di atas logika yang lebih kompleks dari sekadar sentimen nasionalisme atau pujian atas swasembada pupuk. Investor institusional yang duduk di balik layar melihat angka current account, cadangan devisa, dan suku bunga riil, bukan seberapa banyak negara yang beli urea kita.

Prabowo juga menyisipkan pesan politik di penghujung sambutan. Para pemimpin dan pejabat negara, ia tekankan, harus benar-benar setia kepada Indonesia dan berpihak pada rakyat, bukan memanfaatkan kekuasaan untuk kepentingan pribadi. Kalimat ini terasa seperti sinyal ke dalam, bukan keluar.

Buat investor ritel yang portofolionya terpapar saham-saham dengan komponen impor besar, pernyataan presiden ini tidak lantas mengubah kalkulasi risiko. Rupiah melemah tetap menekan margin emiten yang banyak berutang dalam dolar atau bergantung bahan baku impor. Kepercayaan diri pemerintah, pada akhirnya, perlu diterjemahkan ke kebijakan konkret. Podium peresmian museum bukan tempat yang cukup.