Tujuh bulan. Hanya dalam rentang itu, lebih dari 9.000 gedung koperasi berdiri di seluruh penjuru Indonesia, dan 1.061 di antaranya sudah beroperasi penuh. Presiden Prabowo Subianto meresmikan operasional Koperasi Desa Merah Putih di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Sabtu (16/5), dalam sebuah momen yang ia bingkai sebagai tonggak pencapaian bangsa yang tidak main-main.
Sebelum naik podium, Prabowo meninjau langsung gerai koperasi di Desa Nganjuk, mengecek rak bahan pangan, area pelayanan, hingga kendaraan distribusi. Di satu titik ia melontarkan pertanyaan yang cukup ringan kepada para pejabat pendampingnya: apakah koperasi ini nantinya bakal dianggap bersaing dengan Alfamart.
Nada pidatonya kemudian berubah serius. Jauh lebih serius.
Di hadapan hadirin, Prabowo bicara soal sesuatu yang lebih besar dari angka koperasi atau target produksi. Ketahanan pangan, baginya, bukan variabel ekonomi semata. "Tidak mungkin suatu negara bertahan, survive, tanpa produksi pangan yang lancar, yang aman, yang berkesinambungan," tegasnya.
Ia menarik dari pengalaman sebagai komandan pasukan tempur, di mana stok beras secara harfiah menentukan berapa lama operasi bisa berjalan. Lima hari beras, lima hari operasi. Empat belas hari beras, empat belas hari operasi. Dalam logika itu, pangan bukan komoditas. Ia adalah daya tahan negara.
Prabowo juga mengenang para petani dan nelayan sebagai tulang punggung bangsa, bahkan di masa perang kemerdekaan. Waktu pasukan berlatih di kampung-kampung, rakyat desa yang hidupnya sangat susah pun tetap menyodorkan apa yang mereka punya: pisang, ubi, tiwul.
Pertanyaannya, mengapa momen peresmian koperasi dipilih Prabowo untuk menyampaikan kritik keras ke kalangan elit?
Agaknya ada alasannya. Di sela pidato soal pangan, Prabowo menyindir fenomena yang ia sebut sebagai mental rendah diri yang sudah terlalu lama menghinggapi pejabat, tokoh, profesor, bahkan pengusaha Indonesia. "Kita terlalu lama, pemimpin-pemimpin kita, pejabat-pejabat kita, tokoh-tokoh kita, bahkan pakar-pakar kita, profesor-profesor kita, orang-orang penting kita, intelektual-intelektual kita, pengusaha-pengusaha kita, terlalu lama menghidap semacam rasa rendah diri," katanya. "Kalau lihat semua yang berbau atau berasal dari luar, asing dan sebagainya, kita condong kagum. Condong kita lebih segan. Semua yang dari bangsa sendiri kita condong untuk tidak percaya. Kita berprestasi, kita dihina."
Bukan sekadar retorika, bisa jadi. Prabowo tampak ingin menjadikan ribuan koperasi yang berdiri ini sebagai bukti konkret bahwa Indonesia mampu bergerak cepat, kalau tidak terlalu sibuk meremehkan diri sendiri.
Dari Kalimantan Timur, kabar yang memperkuat narasi itu datang bersamaan. PT Pupuk Kalimantan Timur meresmikan ekspor 250.000 metrik ton urea ke Australia, bagian dari kerja sama antarpemerintah resmi. Kepala Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kaltim Fahmi Himawan menegaskan ekspor skala besar itu tidak mengganggu pasokan lokal. "Di tengah tantangan global dan kenaikan harga pupuk dunia, Kalimantan Timur mampu menjaga stabilitas ketersediaan pasokan dengan stok aman," ujarnya.
Dua cerita, dua titik berbeda, satu benang merah: sektor pangan Indonesia sedang ingin ditampilkan sebagai kekuatan, bukan kelemahan. Kalau data ini bisa dipercaya dan momentum ini cukup solid, jawabannya baru akan kelihatan beberapa kuartal dari sekarang.