Pasar mata uang mulai memberi sinyal yang tidak nyaman bagi London.
Pound Inggris kini menanggung beban tambahan berupa premi risiko politik terhadap Euro, sebuah kondisi yang biasanya muncul ketika ketidakpastian di dalam negeri sudah terlalu besar untuk diabaikan pelaku pasar. ING, bank asal Belanda yang dikenal tajam dalam analisis valuta asing, memperingatkan bahwa tekanan ini bukan sekadar noise. Ini cermin retak dari dinamika politik Inggris yang memburuk lebih cepat dari yang banyak orang perkirakan.
Dan kalau melihat apa yang terjadi di Westminster belakangan ini, reaksi pasar itu agaknya masuk akal.
Keir Starmer, yang baru memimpin Inggris sejak Juli 2024, sedang menghadapi ujian paling berat sejak ia menduduki Downing Street. Hasil pemilihan lokal terbaru menjadi alarm keras: Partai Buruh kehilangan lebih dari 1.460 kursi dewan, angka yang disebut-sebut sebagai hasil terburuk partai berkuasa dalam hampir tiga dekade. Bukan angka yang bisa diputar narasinya dengan mudah.
Kekalahan ini pun bukan karena oposisi Konservatif tiba-tiba menguat. Justru Reform UK di bawah komando Nigel Farage yang menyedot basis suara tradisional Partai Buruh, termasuk di kantong-kantong "Red Wall" di Inggris utara yang selama ini dianggap sudah aman. Sejumlah wilayah di London, Skotlandia, dan Wales mulai menunjukkan tanda-tanda pergeseran serupa.
Survei Ipsos Political Pulse mempertegas gambaran itu. Hampir separuh responden menyatakan Starmer sebaiknya mundur. Tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahannya berada di titik yang sulit dipertahankan, terutama menjelang pemilu 2029.
Starmer, dalam pidato politiknya pada Senin (12/5/2026), menegaskan dirinya masih pemimpin yang tepat untuk membawa perubahan. Ia juga menyatakan siap bertanggung jawab penuh atas seluruh janji kampanye. Terdengar kokoh di atas podium. Tapi kurang meyakinkan kalau melihat deretan kontroversi yang menumpuk: kebijakan imigrasi "satu masuk, satu keluar" dengan Prancis yang dinilai gagal, lalu penunjukan Peter Mandelson sebagai duta besar untuk Amerika Serikat yang berujung polemik akibat hubungan masa lalunya dengan Jeffrey Epstein.
Bursa nama pengganti Starmer pun mulai ramai.
Wes Streeting, Menteri Kesehatan Inggris, muncul sebagai kandidat paling kuat. Komunikator ulung dari kubu kanan-tengah partai ini dinilai punya modal cukup untuk memicu kontes kepemimpinan, termasuk keberhasilannya mempertahankan basis di Redbridge saat partainya di tempat lain berdarah-darah. Belakangan ia mulai mengambil posisi lebih progresif di isu kesejahteraan sosial dan Gaza, entah kebetulan atau tidak, tepat di momen ketika pertanyaan soal kepemimpinan partai makin sering muncul.
Angela Rayner, mantan wakil perdana menteri dari sayap kiri partai, juga tidak bisa diabaikan. Pengaruhnya di akar rumput masih besar meski pernah tersandung kontroversi kode etik pajak. Ia bahkan secara terbuka mengkritik arah strategi pemerintahan Starmer. Menariknya, sejumlah laporan justru menyebut Rayner lebih mendorong Andy Burnham untuk kembali ke panggung nasional ketimbang maju sendiri.
Burnham sendiri jadi nama yang terus disebut. Wali Kota Greater Manchester itu konsisten memperoleh tingkat popularitas tinggi dalam survei demi survei, dengan 34% responden dalam jajak pendapat terbaru menyatakan ia lebih layak jadi perdana menteri dibanding Starmer. Masalahnya satu: tidak ada kursi di Westminster. Untuk bisa resmi mencalonkan diri, ia harus kembali melalui pemilihan sela terlebih dulu.
Ada pula nama Catherine West. Anggota parlemen itu sempat dikabarkan mempertimbangkan langkah memicu kontes kepemimpinan internal, meski tidak berlanjut karena minim dukungan formal. Tapi langkah itu sendiri sudah cukup jadi sinyal bahwa kegelisahan di tubuh partai sudah sampai tahap yang tidak lagi bisa ditutupi.
Secara aturan internal, kontes kepemimpinan Partai Buruh baru bisa dimulai jika minimal 20% anggota parlemen, atau sekitar 81 orang, menyatakan dukungan kepada kandidat alternatif. Angka itu belum tercapai. Tapi momentumnya sedang bergerak ke sana.
Pound, kalau data ini bisa dipercaya, sudah lebih dulu membaca situasi ini. Pertanyaannya: berapa lama premi risiko yang kini mulai terbentuk ini sekadar jadi noise, sebelum pasar memutuskan itu sinyal permanen?