Jonathan Pollard, mantan analis intelijen Angkatan Laut AS yang dijebloskan ke penjara karena menyuplai informasi rahasia ke Israel, melontarkan peringatan keras: Israel perlu bersiap menghadapi perang regional yang lebih luas, dan kali ini lawan yang mungkin dihadapi bukan sembarang negara. Badai, katanya, sudah di ambang pintu.
Dalam podcast di saluran Arutz Sheva, Pollard menyebut Turki dan Mesir sebagai potensi titik konflik Israel berikutnya, pasca-konfrontasi dengan Iran. "Kita harus siap untuk perang berikutnya, yang mungkin akan melawan Turki dan Mesir. Badai akan datang," ujarnya, sebagaimana dikutip Middle East Monitor.
Soal Turki, Pollard tidak basa-basi. "Saya tidak yakin kita akan memperoleh kemudahan dengan Turki seperti yang kita alami dengan Iran," tegasnya. Kapasitas militer Ankara, posisi strategisnya sebagai anggota NATO, hingga industri pertahanan yang tumbuh pesat, termasuk armada drone tempur yang sudah diuji di medan nyata, menjadikan setiap skenario konfrontasi jauh lebih berat. Agaknya bukan gertakan kosong.
Pollard juga menyoroti Suriah yang kian memanas. Ia memperingatkan agar Israel tidak membiarkan pemerintahan transisi yang didukung Ankara merebut kendali atas wilayah selatan Suriah yang kini diduduki pasukan Israel. Bila itu terjadi, pasukan Turki praktis akan berdiri di garis perbatasan langsung dengan Israel. Skenario yang, bisa jadi, lebih meresahkan Tel Aviv dibanding rudal-rudal Iran yang sudah mereka hadang.
Ketegangan Israel-Turki memang bukan barang baru. Hubungan keduanya sudah mengalami pasang surut bertahun-tahun, namun kian memburuk sejak agresi Israel di Gaza memicu kecaman bertubi-tubi dari Presiden Recep Tayyip Erdoğan. Ankara berulang kali menuduh Israel melanggar hukum internasional, sementara Tel Aviv menilai sikap Turki semakin konfrontatif.
Satu hal yang perlu digarisbawahi: Pollard bukan pejabat aktif maupun analis resmi lembaga intelijen mana pun saat ini. Pada 1987, pengadilan AS menjatuhi hukuman penjara seumur hidup kepadanya atas dakwaan spionase. Setelah 30 tahun mendekam di balik jeruji, ia dibebaskan bersyarat pada 2015. Kasusnya sempat menjadi salah satu skandal paling merusak dalam hubungan Tel Aviv dan Washington. Pandangannya, dengan kata lain, cerminan opini pribadi, bukan posisi resmi pemerintah Israel.
Tak ada indikasi resmi bahwa Israel tengah menyiapkan operasi militer terhadap Turki maupun Mesir. Namun komentar Pollard tetap mendapat perhatian. Konflik Gaza belum padam, persaingan pengaruh regional kian sengit, peta kekuatan di Suriah pasca-Assad terus bergeser. Entah kebetulan atau tidak, peringatan semacam ini jarang muncul tanpa ada geopolitik yang sedang mendidih di latar belakangnya.