Andrej Babis tidak sedang basa-basi. Dalam wawancara dengan Financial Times, Perdana Menteri Ceko itu secara terbuka mengakui bahwa negaranya kemungkinan besar akan meleset dari target pengeluaran pertahanan NATO sebesar 2% dari PDB tahun ini, sekaligus mempertanyakan apakah angka persentase itu memang cara yang benar untuk mengukur kontribusi militer suatu negara.
Defisit anggaran warisan pemerintahan sebelumnya jadi kambing hitamnya. Babis, yang kembali ke tampuk kekuasaan setelah gerakan ANO-nya menang telak dalam pemilu, menuding kabinet terdahulu yang dinilainya terlalu pro-Brussel telah menguras kas negara jauh sebelum ia sempat duduk di kursinya. Tekanan fiskalnya nyata. Konsekuensinya langsung terasa di pos anggaran pertahanan.
Babis tidak berhenti di sana. Ia mendorong agar diskusi di dalam NATO bergeser dari sekadar kejar setoran persentase PDB ke arah evaluasi kapabilitas militer aktual. Argumennya punya logika tersendiri: negara yang membelanjakan 2% dari PDB yang kecil bisa saja memberikan kontribusi riil lebih kecil dibanding negara yang sedikit di bawah ambang batas tapi memiliki industri pertahanan jauh lebih kuat. Klaim yang masih perlu dibuktikan, tapi bukan tanpa dasar.
Ada serangan yang lebih frontal ke arah Brussel. Babis menyamakan kondisi Uni Eropa saat ini dengan fase keruntuhan Kekaisaran Romawi. Bukan pernyataan ringan, dan agaknya bukan kebetulan ia melontarkannya setelah kembali berkuasa. Tiga isu menjadi akar kritiknya: agenda dekarbonisasi yang dianggap membebani industri, regulasi lingkungan yang dinilai menggerus daya saing Eropa di pasar global, serta ketergantungan keamanan yang masih berpusat di Washington.
Soal iklim, Babis tegas bahwa ambisi net-zero Brussels justru mendorong biaya energi ke level yang mencekik sektor industri. Bukan hanya Ceko yang resah. Jerman, Italia, dan Polandia dilaporkan merasakan tekanan serupa, dan suara skeptis terhadap kecepatan transisi energi kian keras di koridor-koridor parlemen Eropa.
Menariknya, kritik Babis soal pertahanan dan kritiknya soal Uni Eropa bermuara ke masalah yang sama: biaya. AS mendesak sekutu Eropa untuk lebih mandiri dan menambal anggaran NATO. Pada saat bersamaan, regulasi Eropa sendiri justru menambah beban fiskal negara-negara anggota yang anggarannya sudah ketat. Bagi Babis, ini ibarat disuruh berlari sementara kedua kaki diikat.
Ceko bukan pemain kecil di peta geopolitik Eropa tengah. Posisi Babis yang makin vokal terhadap Brussel mencerminkan arus yang lebih luas di antara anggota-anggota yang mulai jengah. Apakah suara-suara seperti ini cukup untuk mengubah arah kebijakan pusat Uni Eropa, atau sekadar riak di permukaan, itu pertanyaan yang belum ada jawabannya hari ini, dan mungkin tidak akan terjawab dalam waktu dekat.