SELASA, 6 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  PM Australia Minta Maaf Usai Candaan Podcast Berbu...

Internasional

PM Australia Minta Maaf Usai Candaan Podcast Berbuntut Panjang

Perdana Menteri Anthony Albanese meminta maaf secara terbuka setelah komentarnya dalam sebuah podcast komedi memicu kecaman dari politisi lintas partai dan organisasi hak perempuan.

Perdana Menteri Australia meminta maaf setelah pernyataan tidak pantas yang dikritik secara luas.

Perdana Menteri Australia Anthony Albanese terpaksa meminta maaf secara terbuka setelah penampilannya dalam sebuah podcast komedi berubah menjadi bola panas politik yang bergulir lebih jauh dari yang ia bayangkan.

Kontroversi bermula dari wawancara santai Albanese di podcast Bush Deep bersama komedian Nikki Osborne, dirilis akhir pekan lalu. Sesi itu awalnya ringan: anjing peliharaan sang PM, koleksi hadiah unik dari para pemimpin dunia. Tapi menjelang akhir, Osborne mengajukan pertanyaan permainan "shag, marry, date", meminta Albanese memilih di antara penyanyi Kylie Minogue, aktris Nicole Kidman, dan Rhonda Burchmore.

Albanese sempat mengelak. "Saya baru saja menikah, baru enam bulan," katanya. Osborne terus mendorongnya. Albanese akhirnya menjawab, "Kylie, jelas," bahkan mengklaim ingin memilih Minogue untuk seluruh kategori sekaligus. "Dia luar biasa," tambahnya. Tak berhenti di situ, ia melontarkan komentar soal kehidupan rumah tangga bersama istri, Jodie Haydon, sambil berkelakar bahwa kemenangan tim rugby liga favoritnya, South Sydney Rabbitohs, adalah "afrodisiak yang baik."

Pasar reaksi publik langsung ramai. Kritik datang dari anggota parlemen independen Zali Steggall hingga politikus Partai Liberal Sarah Henderson, ditambah sejumlah organisasi hak-hak perempuan yang ikut angkat suara.

Steggall menilai seorang perdana menteri seharusnya menolak ikut serta dalam permainan semacam itu sejak awal, memberikan teladan, dan menyebut permainan tersebut bersifat seksis. Henderson lebih keras: komentar Albanese tidak menghormati perempuan, mempermalukan warga Australia, serta merendahkan martabat jabatan Perdana Menteri.

Bukan main. Baru enam bulan menikah, Albanese agaknya tidak memperhitungkan bahwa candaan di depan mikrofon podcast bisa beresonansi sekeras ini. Permintaan maaf disampaikan, meski kantor PM tidak merinci lebih jauh isi pernyataannya.

Insiden ini, kalau data reaksi publik bisa dijadikan cermin, mengingatkan bahwa di era podcast dan konten informal, batas antara "ngobrol santai" dan "pernyataan pejabat negara" nyaris lenyap. Mikrofon tetap menyala. Apapun niatnya.