SENIN, 5 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  PM Australia Minta Maaf Tanpa Syarat Usai Komentar...

Internasional

PM Australia Minta Maaf Tanpa Syarat Usai Komentar Cabul soal Kylie Minogue

Anthony Albanese terseret kontroversi setelah ikut permainan "shag, marry, date" di podcast komedi, menyebut nama Kylie Minogue. Gelombang kritik dari parlemen langsung berdatangan.

PM Australia Minta Maaf atas Komentar Cabul soal Kylie Minogue

Anthony Albanese memilih momen yang agaknya kurang tepat untuk tampil santai di depan kamera. Perdana Menteri Australia itu hadir sebagai bintang tamu di podcast komedi Bush Deep, dipandu komedian Nikki Osborne, di kediaman resminya di Canberra. Wawancara 20 menit itu dirilis akhir pekan lalu dan langsung memantik kehebohan yang mungkin tidak ia antisipasi.

Pemicunya: permainan "shag, marry, or date", atau dalam bahasa tanpa eufemisme, pilih siapa yang akan kamu tiduri, nikahi, dan kencani. Osborne menawarkan tiga nama: Kylie Minogue, Nicole Kidman, dan Rhonda Burchmore. Albanese sempat mundur. "Saya baru saja menikah, baru enam bulan," katanya, merujuk pada pernikahannya dengan Jodie Haydon November lalu. Tapi setelah terus didesak, ia menjawab, "Oh, Kylie, jelas." Ketika Osborne mengejar apakah ia akan menikahi, menidurinya, dan mengencani Minogue sekaligus, Albanese menjawab singkat: "Semua di atas. Dia luar biasa."

Potongan video itu menyebar cepat. Kritik langsung berdatangan, bukan dari media hiburan, tapi dari kalangan parlemen.

Zali Steggall, anggota parlemen independen, menyebut komentar tersebut tidak pantas. Albanese, katanya, seharusnya belajar menolak, memimpin dengan contoh, dan menyebut permainan semacam itu sebagai tindakan seksis. Dari kubu oposisi, Menteri Komunikasi Bayangan Sarah Henderson lebih keras. Lewat unggahan di X, Henderson menyebut komentar sang PM tidak menghormati perempuan, mempermalukan warga Australia, dan mencoreng wibawa jabatan perdana menteri.

Senin pagi waktu setempat, Albanese merilis pernyataan satu kalimat. "Saya dengan tegas meminta maaf atas komentar tersebut." Titik. Sementara sang PM tengah melawat ke kawasan Pasifik, Wakil PM Richard Marles turun tangan meredam situasi. Dalam wawancara di Radio National Breakfast ABC, Marles menarik garis lebih luas: pemerintahan yang dipimpin Albanese, tegasnya, adalah kabinet pertama dalam sejarah Australia yang memiliki komposisi menteri pria dan wanita setara.

Pola ini sebenarnya bukan hal baru. Para politisi di seluruh dunia semakin rajin menjangkau audiens muda lewat podcast dan kreator konten, bukan semata lewat wawancara pers konvensional. Strateginya masuk akal secara komunikasi politik. Tapi format yang lebih cair juga membuka ruang blunder yang lebih lebar, bak jalan tol tanpa rambu.

Podcast Bush Deep rupanya menyimpan lebih dari satu momen canggung. Albanese juga sempat bercerita soal hadiah teraneh yang pernah ia terima dari kunjungan luar negeri: dua buah melon dari PM Jepang Sanae Takaichi. Wawancara itu ditutup dengan gestur kontroversial lain ketika Osborne melontarkan komentar fisik tentang PM Takaichi, dan Albanese meresponsnya dengan senyum sambil menggerakkan tangan di depan dadanya.

Kylie Minogue sendiri, sang nama yang terseret di tengah kekacauan ini, belum merespons secara publik. Ia tetaplah salah satu ikon pop terbesar yang pernah dilahirkan Australia, dengan 11 lagu di tangga Billboard dan Grammy untuk Best Pop Dance Recording lewat "Padam Padam". Pertanyaannya kini bukan soal Minogue. Seberapa mahal, sebenarnya, harga sebuah candaan bagi seorang kepala pemerintahan di era semua hal bisa direkam dan viral dalam hitungan jam?