JUMAT, 9 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Pisau Rakitan 30 Cm Gegerkan Stasiun Riset Antarti...

Internasional

Pisau Rakitan 30 Cm Gegerkan Stasiun Riset Antartika Korea Selatan

Seorang peneliti pria berusia 50-an tahun mengancam rekan setimnya dengan pisau baja buatan sendiri di Stasiun Jang Bogo, Antartika. Pelaku kini diselidiki polisi setelah dievakuasi ke Korea Selatan melalui koordinasi internasional.

Kisruh di Antartika, Peneliti Korsel Dapat Ancaman Pisau Rakitan 30 Cm

Sebuah pisau baja sepanjang 30 sentimeter, dibuat diam-diam di bengkel stasiun penelitian sendiri, menjadi benda yang membuat suasana Stasiun Jang Bogo di Antartika mendadak mencekam pada April lalu.

Korea Polar Research Institute (KOPRI) mengonfirmasi insiden pengancaman itu terjadi di pangkalan riset Korea Selatan yang berdiri di Terra Nova Bay, Victoria Land, Antartika tenggara. Tidak ada korban luka. Petugas stasiun bergerak cepat memisahkan pelaku sebelum situasi memburuk.

Pelaku adalah pria berusia sekitar 50 tahun yang, menurut laporan The Korea Times, sudah lama dikenal kerap berselisih dengan rekan kerjanya. Hubungan yang tidak harmonis itu agaknya menumpuk selama masa penugasan di lingkungan serba terbatas, sampai akhirnya meledak dengan cara yang paling mengkhawatirkan: sang pria masuk bengkel, mengambil lembaran baja, dan merakit senjatanya sendiri. Bukan main.

Proses pemulangan pelaku tidak sederhana. Musim dingin Antartika membuat sebagian besar operasi penerbangan lumpuh, sehingga evakuasi harus ditempuh lewat koordinasi antarnegara. Pelaku akhirnya tiba kembali di Seoul pada Senin, 11 Mei 2026, dan langsung masuk radar kepolisian yang kini tengah menyelidiki kasus ini.

KOPRI menyatakan Stasiun Jang Bogo tetap beroperasi normal. Tak berselang lama setelah insiden, lembaga itu menggelar sesi wawancara video dan konseling psikologis jarak jauh untuk seluruh personel yang masih berada di lapangan. Langkah yang masuk akal, kalau data psikologis tentang isolasi ekstrem bisa dipercaya, karena tekanan dari kejadian semacam ini bisa menggerogoti moral tim jauh lebih cepat dari cuaca.

KOPRI juga berkomitmen memperketat seleksi kru musim dingin. Bukan cuma kemampuan teknis yang akan disaring, tapi juga ketahanan mental dan stabilitas emosional. Dua hal yang selama ini, jujur saja, kurang mendapat porsi serius dalam proses rekrutmen peneliti kutub.

Bukan kali pertama Antartika menjadi panggung kekerasan. Stasiun King Sejong, pangkalan pertama Korea Selatan yang berdiri di Pulau King George, sudah dua kali mencatat insiden serupa, setidaknya yang terungkap ke publik. Pada 2009, seorang anggota tim dalam kondisi mabuk menyerang rekannya. Kasus itu baru tersembul dua bulan kemudian, diiringi dugaan upaya penutupan bukti termasuk penghapusan rekaman CCTV. Satu insiden lain di lokasi yang sama, terjadi awal 2020, baru diketahui publik tahun lalu.

Pola ini mengisyaratkan sesuatu yang lebih sistemik. Kehidupan dalam kelompok kecil berbulan-bulan, cuaca yang tidak berpihak, ruang gerak yang nyaris nol, tekanan riset yang tidak berhenti: kombinasi yang, bagi kesehatan mental, ibarat pedang bermata dua. Pertanyaannya bukan lagi apakah insiden seperti ini bisa terulang, melainkan seberapa serius institusi-institusi riset kutub mau berbenah sebelum ada yang benar-benar terluka.