Sebelum konflik AS-Israel-Iran pecah pada akhir Februari lalu, sekitar 20 juta barel minyak melintas setiap hari melalui Selat Hormuz. Kini jalur itu jadi zona terlarang de facto, dan negara-negara Teluk berlomba menemukan jalan keluar, entah berhasil atau tidak.
Responsnya ternyata cukup masif. Arab Saudi memaksimalkan East-West Pipeline menuju Laut Merah, UEA mendorong kapasitas Habshan-Fujairah Pipeline ke batas maksimal, sementara Irak yang tidak punya banyak pilihan mengirim ribuan truk pengangkut minyak mentah melalui darat menuju pelabuhan-pelabuhan Suriah. Suriah, yang beberapa bulan lalu praktis tidak menangani ekspor minyak Timur Tengah dalam jumlah berarti, kini bertanggung jawab atas lebih dari seperempat volume ekspor kawasan. Perubahan yang tidak ada yang memprediksikan.
Proyek-proyek baru pun dikebut. UEA berencana menggandakan kapasitas ekspor di luar Selat Hormuz melalui pipa kedua menuju Pelabuhan Fujairah di Teluk Oman. West-East Pipeline mereka kini sudah sekitar 50 persen rampung dan diperkirakan mulai beroperasi awal tahun depan, menurut firma analisis energi Kpler. Arab Saudi dikabarkan mempertimbangkan tambahan kapasitas pipa menuju Laut Merah sebesar 2 juta barel per hari. Kuwait pun mulai berdiskusi dengan Riyadh dan Abu Dhabi soal akses ke jaringan pipa negara tetangganya.
Paling rumit kasusnya ada di Irak. Produksi minyak negara itu pada Juni anjlok ke 1,9 juta barel per hari, turun lebih dari 50 persen dibanding 4,2 juta barel per hari pada Februari sebelum perang, karena hampir seluruh ekspor Irak bergantung pada Pelabuhan Basra di selatan dengan alternatif yang sangat terbatas. Washington turun tangan: seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS menyatakan dukungan untuk membangun kembali pipa minyak dari Kirkuk di utara Irak menuju pesisir Mediterania melalui Suriah, dengan perusahaan-perusahaan AS yang kemungkinan akan terlibat. Konsorsium yang mencakup Chevron juga mengkaji pembangunan kembali pipa Kirkuk-Baniyas yang rusak sejak Perang Irak dua dekade lalu. Turki ikut mengusulkan perpanjangan jalur Kirkuk-Ceyhan hingga Basra.
Angka proyeksinya memang menggiurkan. Goldman Sachs menyebut ada tujuh proyek pipa di kawasan yang sedang dibangun atau dalam tahap perencanaan. Jika semuanya rampung, kapasitas pipa Timur Tengah diperkirakan menembus 14 juta barel per hari pada akhir 2028, atau lebih dari 60 persen volume ekspor tujuh negara Teluk sebelum perang yang mencapai sekitar 23 juta barel per hari. Dalam skenario akselerasi, angka itu bisa mencapai 75 persen. Goldman mencatat rata-rata pembangunan pipa di kawasan ini sekitar 2,5 tahun, meski tekanan gangguan pasokan historis terbukti bisa memangkas waktu itu.
Tapi kemudian ada pertanyaan yang tidak nyaman: apakah pipa lebih aman dari kapal tanker?
Jennifer Li, analis geopolitik Rystad Energy, menyebut pipa-pipa itu lebih tepat dipandang sebagai instrumen mitigasi risiko geopolitik, bukan pengganti Selat Hormuz. Klaimnya bukan tanpa bukti. April lalu, Iran menyerang salah satu stasiun pompa di jaringan East-West Pipeline Arab Saudi menuju Laut Merah, dan kapasitas aliran langsung terpangkas sekitar 700.000 barel per hari. Satu serangan, satu titik. Dampaknya terasa langsung di pasar.
Bob McNally, pendiri Rapidan Energy Group, lebih blunt. "Masalahnya bukan jalur pelayarannya," tegasnya. "Iran dapat menggunakan berbagai jenis senjata untuk menyerang terminal pemuatan, stasiun pompa, terminal akhir, hingga fasilitas penyimpanan yang menjadi bagian dari jaringan pipa." Serangan asimetris berbiaya rendah terhadap pipa, dengan kata lain, tidak lebih sulit dari serangan ke kapal tanker.
Ancaman berikutnya sudah mengantre. Iran disebut meminta kelompok Houthi di Yaman untuk menutup Selat Bab el-Mandeb apabila AS menyerang infrastruktur energi Iran. Pejabat senior politik Houthi Mohammed al-Farah secara terbuka menyatakan kesiapan untuk menutup selat strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden itu. Kalau ini terjadi, jutaan barel minyak Arab Saudi yang sudah berhasil dialihkan lewat East-West Pipeline menuju Terminal Yanbu bisa terjebak lagi di ujung pipa. Bak gayung bersambut yang salah arah. Michelle Wiese Bockmann, analis intelijen maritim Windward, menyebut arti penting Yanbu bagi Arab Saudi dan pasar minyak global tidak bisa diremehkan.
Kemampuan Iran memindahkan tekanan dari satu titik rawan ke titik rawan lain agaknya belum sepenuhnya masuk dalam kalkulasi proyek-proyek pipa yang sedang dikebut ini. Pasar minyak global memang tengah membangun sistem distribusi yang lebih beragam, dan itu langkah yang masuk akal. Tapi selama Iran masih punya kapabilitas dan insentif untuk menyasar infrastruktur energi di mana saja, diversifikasi jalur ekspor mungkin hanya memindahkan problem, bukan memecahkannya.