SENIN, 12 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Pezeshkian di Forum Islam: Tanah Muslim Bukan Aren...

Internasional

Pezeshkian di Forum Islam: Tanah Muslim Bukan Arena Proxy War

Di tengah konflik bersenjata dengan AS dan Israel, Presiden Iran Masoud Pezeshkian tampil di Konferensi Persatuan Islam Internasional ke-40 dengan dua pesan sekaligus: solidaritas keamanan dan konsolidasi ekonomi antarnegara Muslim.

Teheran punya cara tersendiri membaca situasi. Ketika negara-negara Barat sibuk mengencangkan sanksi, Iran justru menggelar konferensi yang menarik sekitar 600 delegasi dari 40 negara, mulai dari Irak, Pakistan, Turki, Lebanon, hingga Afghanistan, berkumpul di satu atap di Teheran, Kamis (27/8/2026).

Forum Konferensi Persatuan Islam Internasional ke-40 itu menjadi panggung Presiden Masoud Pezeshkian menyampaikan dua pesan yang kedengarannya diplomatik, tapi bermuatan tekanan politik cukup berat. Pertama: jangan biarkan tanah negara Muslim dipakai untuk menyerang sesama Muslim. Kedua: perkuat perdagangan antarnegara anggota Organisasi Kerja Sama Islam sebelum posisi tawar kolektif kian tergerus.

Soal yang pertama, Pezeshkian tidak main-main. "Tidak ada negara Islam yang boleh mengizinkan wilayahnya digunakan sebagai pangkalan untuk melakukan agresi terhadap negara Islam lainnya," tegasnya dalam pidato yang disiarkan langsung televisi pemerintah Iran. "Tidak ada negara Islam yang boleh mencari keamanan bagi dirinya sendiri dengan mengorbankan keamanan negara-negara tetangganya," tambahnya.

Pernyataan itu dibungkus narasi defensif: Iran, kata Pezeshkian, tidak sedang bermusuhan dengan sesama Muslim. Iran sedang mempertahankan diri. Serangan berskala besar dari AS dan Israel, klaimnya, meletus justru ketika negosiasi diplomatik antara Teheran dan Washington masih berlangsung. Serangan itu menewaskan komandan, pejabat, ilmuwan, mahasiswa, pelajar, dan warga sipil, serta menghantam infrastruktur di sejumlah kota.

Perundingan, ia sebut, dilanjutkan di bulan yang sama sebagai upaya mencari jalan keluar lewat meja diplomasi. Hasilnya, menurut narasi Teheran, nihil.

Pesan kedua tidak kalah keras, hanya kemasannya lebih halus. Pezeshkian menyoroti fakta yang agaknya luput dari perhatian banyak pihak: hanya sekitar 19 persen ekspor negara-negara anggota OKI yang beredar di antara sesama anggota. Sisanya mengalir ke luar blok. Bagi Iran yang sedang dicekik sanksi Trump, ini bukan sekadar statistik perdagangan. Ini soal ketergantungan struktural yang membuat tekanan ekonomi dari Washington punya daya rusak berlipat ganda.

Sanksi itu tidak ringan. Trump sebelumnya mengumumkan paket pembatasan yang disebut sebagai salah satu yang paling berat pernah dijatuhkan ke Teheran, menyusul gagalnya putaran negosiasi damai. Washington bahkan memberi sinyal akan mengincar negara-negara ketiga yang masih nekat bertransaksi dengan Iran. Dalam konteks itu, seruan Pezeshkian untuk memperdalam perdagangan antaranggota OKI bukan sekadar ajakan solidaritas. Bak gayung bersambut dengan kepentingan Teheran yang mendesak: ini strategi bertahan.

Konferensi berlangsung hingga Minggu (30/8/2026), dengan rangkaian kegiatan di Teheran, Qom, dan Mashhad, ditambah empat pertemuan khusus di Provinsi Azerbaijan Barat, Kurdistan, Golestan, dan Razavi Khorasan. Ambisius, untuk ukuran negara yang sedang dihimpit tekanan militer dan ekonomi secara bersamaan.

Apakah seruan Pezeshkian akan didengar? Pertanyaan yang lebih relevan mungkin begini: seberapa banyak anggota OKI yang sanggup mengabaikan ancaman sanksi sekunder dari Washington demi memperkuat solidaritas dengan Teheran? Itulah tes sesungguhnya dari forum ini.