SELASA, 13 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Perang Udara Rusia-Ukraina Makin Brutal, Kyiv Bala...

Internasional

Perang Udara Rusia-Ukraina Makin Brutal, Kyiv Balas Bakar Kilang Minyak

Serangan rudal balistik Rusia menewaskan sedikitnya 16 orang di Kyiv, sementara drone Ukraina membakar kilang minyak di Nizhny Novgorod. Dua pihak bertaruh siapa yang lebih dulu patah.

Perang Rusia-Ukraina Masuk Fase Baru, Serangan Udara Makin Mematikan

Pekan lalu, rudal balistik Rusia menghantam rumah sakit anak-anak, sekolah, dan kawasan pemukiman di Kyiv, menewaskan sedikitnya 16 orang. Tanpa pencegat Patriot yang cukup, Ukraina tak mampu menjatuhkan satu pun rudal Iskander-M yang meluncur ke wilayahnya.

Balasannya datang pada Rabu (26/8/2026): gelombang drone jarak jauh Ukraina membakar kilang minyak raksasa di dekat Nizhny Novgorod dan gudang e-commerce Wildberries di Tambov. Bukan serangan kecil. Ini sinyal bahwa Kyiv memilih eskalasi ketika meja perundingan buntu.

Vladimir Putin langsung angkat suara. "Rezim Kyiv berupaya merusak ekonomi kita. Apa yang mereka lakukan? Mereka sendiri yang membuka kotak Pandora ini," tegasnya, sebuah framing yang terasa lebih seperti justifikasi untuk eskalasi lebih jauh ketimbang peringatan sungguhan.

Moskwa sudah menjalankan kampanye udara terhadap jaringan energi dan sanitasi Ukraina selama empat musim dingin berturut-turut. Strateginya agaknya sederhana: hajar infrastruktur sipil, runtuhkan moral, paksa konsesi politik. Hanya saja, teori ini tidak terbukti di lapangan. Survei demi survei justru menunjukkan tekanan udara yang terus-menerus memperkuat resistensi publik Ukraina, bukan melemahkannya.

Franz-Stefan Gady, analis militer dari Gady Consulting di Wina, menyebut premis "rasa sakit ditambah kelelahan menghasilkan penyerahan politik" sebagai asumsi yang belum pernah terbukti. "Tetapi pengalaman sejak 2022 dan satu abad pengeboman strategis sebelumnya menunjukkan bahwa serangan udara yang berkelanjutan justru memperkuat masyarakat daripada menghancurkannya," katanya, "dan tidak ada data Ukraina yang menunjukkan sebaliknya."

Keterbatasan pasokan Patriot dari Barat mendorong industri pertahanan domestik Ukraina menggenjot produksi drone secara massal, jutaan unit per tahun. Strateginya bukan lagi sekadar pertahanan pasif. Drone kini diterjunkan untuk menekan sistem pertahanan udara di wilayah selatan Rusia, membuka celah bagi perburuan posisi peluncur Iskander-M.

Rob Lee dari Foreign Policy Research Institute di Philadelphia menjelaskan logikanya: jika wilayah udara dipenuhi drone, peluncur rudal musuh terpaksa bersembunyi atau mundur lebih jauh ke belakang. "Ini bukan solusi 100 persen, tetapi dapat mempersulit Rusia," katanya. Ia juga mengingatkan ancaman baru berupa drone jet Geran-5 dan rudal jelajah murah Banderol yang terus dikembangkan Moskwa.

Seberapa efektif serangan balik Ukraina ke kilang minyak dan pusat logistik Rusia? Para analis skeptis. Hanna Notte dari James Martin Center for Nonproliferation Studies bilang dampaknya perlu "jauh lebih buruk" agar benar-benar menggeser kalkulasi Kremlin. Yang lebih bikin was-was para pengamat di Moskwa, katanya, bukan gempuran drone Ukraina, melainkan mandeknya pergerakan di garis depan.

Bagi sebagian besar pengamat, penentu akhir konflik ini tetap terletak pada keseimbangan kekuatan di darat. Perang udara dari kedua sisi lebih banyak berfungsi sebagai tekanan psikologis dan ekonomi daripada pukulan yang benar-benar membalik arah perang. Pertanyaannya bukan siapa yang menyerang lebih keras, tapi siapa yang lebih dulu kehabisan alasan untuk bertahan.