Angka 50 miliar dollar AS, atau sekitar Rp 890 triliun, bukan proyeksi resmi. Tapi sumber-sumber internal Pentagon menyebut itulah perkiraan biaya riil dari konflik Iran yang kini mulai menekan hampir seluruh sendi operasional militer Amerika Serikat. Lebih tepatnya, sumber CNN menyebut kisaran 40 miliar hingga 50 miliar dollar AS, dan angka terbawah pun sudah cukup untuk membuat kepala bendahara mana pun pening.
Estimasi resmi Pentagon sendiri masih di 29 miliar dollar AS (Rp 516,2 triliun). Angka itu, kata Pelaksana Tugas Pengawas Keuangan Pentagon Jules Hurst III, bahkan belum memasukkan biaya rekonstruksi pangkalan militer yang hancur. Baru amunisi dan pesawat yang gugur di medan laga. Kalau data ini bisa dipercaya, selisih antara angka resmi dan perkiraan lapangan sudah menyentuh dua kali lipat.
Efek dominonya mulai terasa sekarang. Laksamana Daryl Caudle, pejabat tertinggi Angkatan Laut AS, terus terang mengakui bahwa anggaran Angkatan Laut tahun 2026 sama sekali tidak memperhitungkan biaya Operasi Epic Fury, nama resmi operasi militer Presiden Donald Trump di Iran. Akibatnya, Angkatan Laut harus memotong latihan militer, jam terbang, hingga program pelatihan rekrutan baru. "Rekor perekrutan personel yang saya capai akan terganggu tanpa tambahan pendanaan untuk memindahkan personel dari kamp pelatihan dan membayar bonus perekrutan maupun perpanjangan kontrak," ungkap Caudle di hadapan Komite Angkatan Bersenjata DPR AS.
Angkatan Darat tak jauh berbeda. Korps Lapis Baja III yang berbasis di Texas, yang mengawasi sekitar 70.000 tentara dan ratusan tank, mencatat pemangkasan anggaran pelatihan hampir 292 juta dollar AS (Rp 5,2 triliun) sejak akhir April. Lembaga pendidikan medis militer AS ikut terdampak: puluhan kursus dibatalkan, pendanaan terpusat untuk sejumlah program pendidikan lainnya dihentikan. Masif.
Akar masalahnya ada di arsitektur anggaran militer AS itu sendiri. Sistem mereka ketat: setiap pos punya alokasi khusus, tidak bisa dipindahkan sembarangan tanpa restu Kongres. Biaya latihan dan operasional sehari-hari umumnya bersumber dari akun Operations and Maintenance (O&M), akun yang sama yang menanggung bahan bakar, perjalanan dinas, gaji pegawai sipil Pentagon, hingga perbaikan peralatan. Ketika satu akun tersedot untuk operasi aktif, seluruh rantai berguncang.
Todd Harrison, pakar anggaran pertahanan dari American Enterprise Institute, menyebut Pentagon agaknya sudah mulai diam-diam berhemat: memotong perjalanan yang tidak mendesak, membatalkan sebagian latihan. Langkah-langkah kecil yang tidak terasa sekarang, tapi akan terasa nanti ketika kesiapan tempur diukur. Pertanyaannya, berapa lama penghematan diam-diam ini bisa bertahan sebelum ada yang jebol?
Kepala Staf Angkatan Udara Jenderal Kenneth Wilsbach bahkan menegaskan konflik Iran memperburuk masalah kesiapan tempur yang sudah ada sebelum perang ini meletus. Jadi ini bukan sekadar soal uang. Kondisi dasar militer AS sudah tertekan sebelum Operasi Epic Fury dimulai, dan perang ini hanya mempercepat hitungan mundurnya.
Di Kongres, tekanan mengeras. Ken Calvert, anggota DPR dari Partai Republik, mendesak Menteri Pertahanan Pete Hegseth segera mengajukan tambahan anggaran dan memulihkan dana akun O&M yang sudah tersedot ke operasi aktif. "Kita perlu mengembalikan dana akun O&M yang kemungkinan besar digunakan untuk membiayai operasi militer yang sedang berlangsung," kata Calvert. Pada awal konflik, sempat beredar angka tambahan anggaran militer 200 miliar dollar AS (Rp 3.560 triliun), tapi pemerintah kemudian mundur, menyebut angka itu terlampau tinggi tanpa memberikan rincian alternatif.
Harrison mengingatkan bahwa tagihan tersembunyi perang ini belum selesai dihitung. Penggunaan alutsista secara intensif mempercepat kerusakan dan menumpuk biaya perawatan jangka panjang. Stok rudal pertahanan udara dan rudal ofensif dilaporkan mulai menipis, dan mengisi ulang inventaris itu bukan perkara murah.
Krisis anggaran macam ini biasanya baru muncul menjelang akhir tahun fiskal September. Bahwa tekanan ini sudah datang di bulan Mei, entah kebetulan atau tidak, memberi sinyal bahwa skala konflik Iran jauh melampaui kalkulasi awal Pentagon. Dan kalau tren ini berlanjut, yang dikorbankan bukan hanya latihan. Kesiapan tempur jangka panjang ikut dipertaruhkan.