Enam bulan. Hanya butuh waktu itu bagi perang AS-Iran untuk menjadi konflik paling dibenci warga Amerika sejak jajak pendapat mulai digunakan sebagai alat ukur opini publik. Perbandingannya mencolok: Perang Vietnam butuh enam tahun untuk mencapai tingkat penolakan yang sama.
Survei Reuters/Ipsos yang digelar 10-12 Juli 2026 dan melibatkan lebih dari 1.000 responden dewasa menunjukkan 79 persen warga AS kini memperkirakan keterlibatan militer di Iran akan berlangsung lama. Angka itu melonjak dari 65 persen pada akhir Maret. Hanya 18 persen yang masih berharap konflik selesai dalam beberapa pekan, turun dari 31 persen tiga bulan lalu. Jajak pendapat Economist/YouGov menambah gambaran yang sama suram: hampir separuh warga AS memperkirakan perang masih akan berjalan minimal satu tahun.
Dukungan bersih terhadap keputusan Trump menyerang Iran kini bertengger di minus 30 persen. Angka yang, agaknya, belum akan membaik.
Larry Sabato dari University of Virginia menyebut kecepatan munculnya sentimen negatif ini sebagai hal paling mengejutkan. Bukan hanya besarnya penolakan, tapi seberapa cepat ia terbentuk. Penolakan sudah terlihat sejak hari pertama serangan, 28 Februari 2026.
Di medan perang, eskalasi tak berhenti. Militer AS menggempur Iran untuk malam kesembilan berturut-turut hingga Minggu (19/7/2026). CENTCOM menyebut sasaran serangan terbaru mencakup pusat komando militer, sistem pertahanan udara, lokasi pengawasan pantai, kemampuan maritim, serta jaringan komunikasi Iran. Ledakan dilaporkan terdengar di Tabriz, Chabahar, Konarak, Bandar Mahshahr, dan Bandar Imam Khomeini. Iran membalas dengan serangkaian serangan ke fasilitas militer AS di kawasan Teluk, termasuk di Kuwait. Sirene peringatan berbunyi di Bahrain pada Senin pagi (20/7/2026).
Korban jiwa pihak AS resmi bertambah. Dua tentara tewas dalam serangan Iran di Yordania pada 17 Juli, satu lagi gugur di Irak sehari kemudian saat menangani sisa bahan peledak dari drone Iran yang ditembak jatuh. Total, Washington mengakui 17 prajuritnya tewas sejak konflik dimulai, meski sejumlah laporan menuding angka sebenarnya lebih tinggi.
Desakan dari dalam negeri pun menguat. Pemimpin Fraksi Minoritas DPR, Hakeem Jeffries, menyebut konflik ini sebagai "perang pilihan yang ceroboh dan berbiaya mahal" serta bencana bagi rakyat Amerika. Senator Chris Murphy memperingatkan bahwa eskalasi terus bergerak cepat. "Trump secara mengkhawatirkan telah kehilangan kendali atas perang ini," tegasnya. Senator Cory Booker menyerukan agar Kongres menggunakan seluruh kewenangan konstitusional untuk menghentikan "perang yang melanggar hukum ini," sementara Jeanne Shaheen menegaskan Trump harus berunding untuk mengakhiri konflik. Ro Khanna dari California memilih diksi yang lebih singkat: "Akhiri perang di Iran."
Sementara politisi berdebat, dompet warga AS sudah lebih dulu merasakan dampaknya. Harga bensin mendekati US$4 per galon, naik dari sekitar US$3 sebelum perang. Sejak awal Juli, harga minyak mentah Brent melonjak dari sekitar US$72 menjadi lebih dari US$90 per barel, dengan WTI mengikuti di US$84,35 per barel. Trump mengklaim aliran minyak melalui Selat Hormuz justru lebih deras berkat kekuatan militer AS. Data pasar bicara lain.
60 persen responden Reuters/Ipsos memperkirakan harga bensin akan terus memburuk dalam setahun ke depan, jauh melampaui 15 persen yang optimistis harga akan turun. Dalam konteks pemilu sela November, angka ini bisa jadi lebih mematikan secara politik ketimbang jumlah korban jiwa itu sendiri.
Biaya perang versi Pentagon diperkirakan sekitar US$30 miliar, sebagian besar dari amunisi dan bahan bakar. Senator Elissa Slotkin dari Michigan memberikan estimasi lebih dari enam kali lipat angka itu, dengan memasukkan biaya perbaikan pangkalan dan kerugian konsumen. Klaim yang masih perlu dicermati, tapi sudah cukup membuat sidang konfirmasi pejabat Pentagon pada 14 Juli memanas.
Model pemilu sela The Economist memproyeksikan peluang 82 persen bagi Demokrat untuk merebut kendali DPR pada November. Bahkan Mike Lawler, anggota Kongres Republik yang membela langkah Trump, diperkirakan memiliki peluang 68 persen kehilangan kursinya.
Aaron David Miller dari Carnegie Endowment membandingkan posisi Trump saat ini dengan keluhan Lyndon Johnson di masa Perang Vietnam. Johnson menggambarkan dirinya bak penumpang yang menumpang kendaraan di tengah hujan es di jalan raya Texas. "Saya tidak bisa berlari. Saya tidak bisa bersembunyi. Saya juga tidak bisa menghentikannya." Kutipan lama yang terasa sangat segar hari ini.