Selat Hormuz sekarang punya dua tuan, dan keduanya sepakat tidak ingin ada yang pasang palang.
Kesepakatan itu terungkap setelah Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Menlu China Wang Yi berbicara lewat telepon pada 30 April lalu. Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Tommy Pigott mengonfirmasi bahwa keduanya setuju tak ada negara atau organisasi yang boleh memungut biaya tol untuk melintasi jalur air internasional, termasuk Selat Hormuz. Kecil di atas kertas, tapi simbolnya besar.
Karena justru Iran yang kini membatasi jalur itu. Dan di balik postur diplomatisnya, Beijing sedang main di dua meja sekaligus.
Duta Besar Iran untuk China, Abdolreza Rahmani Fazli, pada 10 Mei menyatakan terbuka bahwa Beijing bisa menjadi penjamin untuk setiap perjanjian yang melibatkan Teheran, termasuk kesepakatan dengan Washington. Syarat Iran keras: jaminan tidak akan ada konflik militer baru di masa depan. China, sebagai pembeli terbesar minyak mentah Iran sekaligus jalur ekonomi vital bagi Teheran, punya posisi tawar yang tidak dimiliki pihak lain.
Trump dikabarkan frustrasi. Harga bensin domestik AS masih tinggi, negosiasi pembukaan kembali Selat Hormuz jalan di tempat, dan pembicaraan di Islamabad bulan lalu tidak membuahkan hasil. Dalam kunjungannya ke Beijing yang dijadwalkan Kamis dan Jumat pekan ini, Trump disebut akan meminta Presiden Xi Jinping secara langsung untuk "mendesak" Iran agar mau berdamai.
Bukan posisi yang nyaman bagi Washington.
Tapi sementara diplomasi berlangsung di permukaan, ada aktivitas lain yang lebih senyap. Lebih penting dalam jangka panjang: Beijing tengah membedah setiap detail pertempuran di Teluk Persia.
Konflik Iran, bagi para analis militer, sudah lama bukan sekadar soal Timur Tengah. Ini laboratorium. Sejak AS dan Israel mulai menyerang target-target di Iran pada 28 Februari, PLA tercatat mengamati setiap pola operasi, dari kampanye udara bertahap yang melibatkan F-35 dan B-2, hingga bagaimana drone murah Shahed buatan Iran ternyata mampu menembus sistem Patriot dan THAAD.
Mantan kolonel Angkatan Udara PLA, Fu Qianshao, terang-terangan menyebut Iran berhasil mengekspos celah dalam sistem pertahanan udara Amerika. "Kita perlu mencurahkan upaya signifikan untuk mengidentifikasi kelemahan di sisi pertahanan kita guna memastikan kita tetap tak terkalahkan," ujarnya, dikutip CNBC. Pelajaran pertama dari perang ini, menurut Fu, bukan soal serangan, tapi pertahanan dalam negeri. "Kita harus menggali lebih dalam untuk secara efektif melindungi lokasi-lokasi penting kita, lapangan terbang, dan pelabuhan dari serangan dan penggerebekan," tambahnya.
PLA sendiri tidak diam. Beijing mempercepat produksi jet siluman J-20 yang disebut setara dengan F-35, menggarap pembom siluman jarak jauh berkarakter mirip B-2 dan B-21, serta memperkuat arsenal rudal hipersonik. Lembaga riset pertahanan Inggris RUSI memperkirakan China bisa mengantongi sekitar 1.000 unit J-20 untuk misi serangan presisi jarak jauh.
Angka-angka itu baru bicara sisi ofensif.
Cerita lain soal Taiwan. Chieh Chung dari Institut Penelitian Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan menilai Beijing kini memiliki kombinasi yang sebelumnya tidak ada: presisi ala AS di satu tangan, kawanan drone skala Iran di tangan lainnya. "Roket jarak jauh dan kawanan drone pasti akan memainkan peran kunci dalam operasi militer gabungan Tiongkok melawan Taiwan," katanya. Laporan War on the Rocks tahun ini menyebut kapasitas industri sipil China mampu beralih memproduksi hingga satu miliar drone bersenjata per tahun dalam waktu kurang dari setahun. Satu miliar. Bukan angka yang bisa diabaikan.
Taiwan, entah kebetulan atau tidak, justru disebut belum siap. Laporan lembaga pengawas pemerintah pulau itu menyatakan sistem penangkal drone militernya saat ini tidak efektif dan menimbulkan risiko keamanan serius bagi infrastruktur strategis. Gene Su dari produsen drone Taiwan, Thunder Tiger, menyerukan produksi massal siang dan malam. Kalimat yang terdengar mendesak, dan memang seharusnya begitu.
Tapi para analis mengingatkan satu hal yang kerap lenyap dari analisis berbasis hardware: pengalaman tempur. PLA terakhir terlibat perang besar pada 1979, melawan Vietnam. Militer AS sudah melewati Irak, Afghanistan, Kosovo, dan Panama. Drew Thompson dari Sekolah Studi Internasional S. Rajaratnam di Singapura merangkumnya dengan tepat: pilot andal dengan pesawat biasa-biasa saja akan selalu mengalahkan pilot biasa dengan pesawat yang sangat bagus.
Dan kalaupun China menang secara taktis? Craig Singleton dari Yayasan Pertahanan Demokrasi mengingatkan bahwa kemenangan di medan perang tidak otomatis menghasilkan apa yang diinginkan secara politik. Pengalaman Iran membuktikannya, kalau data ini bisa dipercaya sebagai cermin. Tekanan militer ada. Penyelesaian politik belum terlihat ujungnya.
Pertemuan Trump-Xi di Beijing pekan ini membawa semua lapisan itu sekaligus: negosiasi Hormuz, tekanan pada Iran, dan dua kekuatan besar yang sedang saling mengukur jarak sambil berpura-pura bersalaman.