Tiga bulan bertempur di Iran, dan tagihan strategisnya mulai jatuh tempo. Bukan di medan perang, tapi di meja negosiasi dengan China.
Kongres AS mengungkap bahwa Amerika kehilangan setidaknya 39 pesawat sejak perang Iran dimulai akhir Februari lalu. Pentagon memilih bungkam soal rinciannya. Tapi angka kerugian pesawat bukan satu-satunya yang bikin Capitol Hill gelisah.
Perkiraan dari Departemen Pertahanan dan Kongres menunjukkan AS telah mengerahkan sekitar setengah dari total rudal jelajah siluman jarak jauhnya, ditambah sekitar 10 kali lipat jumlah rudal Tomahawk yang biasanya dibeli setiap tahun. Bukan angka kecil.
Masalahnya: untuk mengisi kembali gudang senjata yang terkuras itu, kontraktor pertahanan AS butuh satu hal yang justru dikuasai musuh dagang mereka. Mineral tanah jarang dari China.
Christopher Padilla, mantan pejabat perdagangan era George W. Bush, bicara blak-blakan soal paradoks ini. "Setidaknya dalam beberapa tahun ke depan, upaya AS untuk membangun kembali persediaannya berarti kita membutuhkan akses ke mineral langka dari China," katanya, dikutip dari New York Times. "Setiap rudal yang ditembakkan ke Iran membuat kita semakin bergantung pada China dan mineral langkanya dalam jangka pendek," sambungnya.
Ini bukan sekadar ironi diplomatik. Ini soal rantai pasokan yang selama bertahun-tahun dianggap remeh dan kini menjadi titik lemah paling nyata dari mesin perang AS.
Mineral tanah jarang tertanam di hampir setiap platform pertahanan canggih. Satu unit F-35 saja mengandung sekitar 408 kilogram unsur tanah jarang. Kapal perusak kelas Arleigh Burke bahkan membutuhkan 2.359 kg. Rudal Tomahawk yang dihabiskan masif selama perang Iran? Juga bergantung pada samarium kobalt untuk memutar sirip pemandu agar tahan panas di kecepatan tinggi. Galium untuk radar, neodimium untuk laser militer, semuanya mengalir dari China. Hampir semuanya.
Beijing agaknya sudah membaca peta ini lebih dulu. Kontrol ekspor yang diberlakukan Desember 2024 dan diperketat April 2025 bukan kebijakan asal jadi. Tahun lalu, cengkeraman rantai pasokan ini terbukti efektif memaksa pemerintahan Trump melunakkan kebijakan tarif. Kini, dengan AS dalam kondisi amunisi menipis pasca-Iran, posisi tawar Beijing berlipat ganda. Pertanyaannya, berapa lama Washington bisa menahan diri?
Meng Weizhan, asisten profesor riset di Institut Studi Lanjutan Ilmu Sosial Universitas Fudan, menyimpulkan situasinya dengan dingin: jika AS ingin meminta perpanjangan perjanjian mineral dengan China, mereka harus memberikan konsesi di bidang lain, seperti tarif atau kontrol terhadap semikonduktor.
Pentagon sendiri sudah mengajukan permintaan anggaran 1,5 triliun dollar AS (sekitar Rp 26.402 triliun) untuk tahun fiskal 2027, dengan alokasi miliaran dollar khusus untuk menemukan sumber alternatif bagi puluhan mineral penting. Proyek "Golden Dome", sistem pertahanan rudal berlapis yang dirancang melindungi AS dari rudal balistik antarbenua dan senjata hipersonik, membutuhkan puluhan radar baru, ribuan pencegat, dan sensor berbasis ruang angkasa. Semua itu rakus mineral tanah jarang.
Mahnaz Khan, wakil presiden kebijakan untuk rantai pasokan kritis di Silverado Policy Accelerator, mengakui pemerintah AS sudah bergerak cepat memperkuat rantai pasokan alternatif. Tapi ia mengingatkan bahwa "dalam konflik yang berkepanjangan, AS dapat menghadapi benturan yang semakin besar antara kebutuhan pertahanan yang meningkat dan rantai pasokan mineral yang masih sangat terkonsentrasi di China."
Membangun tambang dan fasilitas pemrosesan baru butuh waktu bertahun-tahun. Perang tidak menunggu.
Dan ketika Washington dan Beijing bersiap bertemu membahas situasi Iran, AS datang ke meja itu dengan posisi yang lebih lemah dari yang ingin diakui siapa pun.