Hampir enam bulan berlalu sejak Amerika Serikat membuka front militer terhadap Iran, dan pertanyaan paling mendasar masih belum terjawab: sebenarnya apa yang ingin dicapai Washington?
Senator Ruben Gallego dari Arizona, mantan Marinir yang pernah bertugas di Irak, melontarkan kritik keras terhadap pemerintahan Trump dalam wawancara dengan ABC News, Minggu, 16 Agustus 2026. Bukan sekadar ketidaksetujuan biasa. Gallego bicara tentang ketiadaan rencana yang paling fundamental. "Kami masih belum sepenuhnya memahami mengapa kami masuk ke perang dengan Iran. Kami benar-benar tidak tahu bagaimana kami akan keluar," ujarnya blak-blakan.
Kritiknya berlapis. Soal persiapan operasional, Gallego menyebutnya amburadul: sejumlah personel militer AS tewas karena Departemen Pertahanan tidak menyiapkan perlindungan memadai bagi fasilitas dan tempat berlindung. Dua gudang logistik AS dilaporkan kena serangan, dan pemerintah disebut tidak punya rencana dukungan yang cukup untuk mengantisipasi skenario seperti itu.
Soal USS Abraham Lincoln yang dikerahkan ke kawasan konflik, Gallego mengaku sempat berbicara dengan salah satu pasangan awak kapal sekitar tiga hari sebelum wawancara, dan mendapat informasi bahwa persoalan di atas kapal masih berlangsung. "Selama ini para pejabat berada di mana hingga situasinya mencapai titik seperti ini?" tanyanya, dengan nada yang agaknya lebih bernada murka daripada retorika.
Dampak jangka panjangnya pun ia soroti. Setelah perbaikan besar rampung dan para kru kembali ke keluarga masing-masing, Angkatan Laut akan dihajar persoalan retensi. Sebagian personel paling berpengalaman secara teknis, kata Gallego, bisa jadi memilih hengkang dan membawa keahlian mereka ke sektor sipil. Bukan ancaman kecil.
Gallego juga menyinggung politisasi internal Departemen Pertahanan. Sejumlah jenderal senior dipecat karena dianggap tidak sejalan dengan "sumpah atau visi presiden ini", sementara promosi jabatan kini diduga dipengaruhi kedekatan dengan presiden atau Pete Hegseth, yang Gallego nilai sama sekali tidak layak memimpin Pentagon.
Anggaran? Gallego menolak tegas penambahan dana selama tujuan perang belum diklarifikasi. Analoginya nyentil: "Ini seperti memberi lebih banyak uang kepada seorang pemabuk dan berharap dia berhenti minum." Pengalamannya di Irak, kata Gallego, mengajarkan betapa mudahnya Amerika terjebak dalam perang yang terus dibiayai dari tahun ke tahun, tanpa pernah benar-benar menang. "Saya tidak ingin kita kembali terjebak dalam perang 20 tahun lainnya hanya karena kita takut menghentikan pendanaan yang pada dasarnya membiayai perang ilegal ini," tegasnya.
Dari Teheran, narasi yang beredar berbeda 180 derajat. Wakil Presiden Pertama Mohammad Reza Aref, berbicara di hadapan Markas Besar Regulasi Pasar, menyatakan bahwa AS kini mencoba menutupi kegagalan militernya lewat tekanan ekonomi. "Musuh sekarang ingin mengimbangi kekalahannya di bidang militer melalui perang ekonomi dan pemerintah harus bersikap tegas terhadap pendekatan ini dengan perencanaan yang tepat," katanya, dikutip dari Al Jazeera, Senin (17/8/2026). Ia mendesak para pejabat mengesampingkan kepentingan faksional demi kepentingan nasional.
Tekanan ekonomi dari Washington memang tidak ringan. Blokade angkatan laut AS menekan ekspor minyak Iran dari Pulau Kharg hingga mendekati nol pada Juli, cadangan minyak terapung menyusut dari 180 juta barel menjadi sekitar 60 juta barel. Inflasi tahunan melampaui 80 persen, dan IMF memproyeksikan ekonomi Iran menyusut 5,4 persen tahun ini. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengklaim kebijakan ini mendorong mata uang Iran ke titik kritis dengan inflasi tiga digit. Angka yang tidak main-main.
Tapi efektivitasnya masih perlu dibuktikan, kalau data ini bisa dipercaya sepenuhnya. William Jackson, Kepala Ekonom Pasar Negara Berkembang di Capital Economics, mengingatkan bahwa respons Iran terhadap sanksi sangat bergantung pada dinamika politik internal rezim, yang kini sepenuhnya dikendalikan faksi konservatif garis keras. Membuat Iran lebih miskin, kata Jackson, jauh lebih mudah daripada membuat pemimpinnya berubah arah.
Teheran menjalankan serangkaian instrumen darurat: pemadaman listrik bergilir untuk industri, pencetakan uang untuk gaji pegawai negeri, subsidi devisa hingga 3,5 miliar dolar AS untuk impor komoditas vital seperti gandum, obat-obatan, dan susu formula bayi, serta skema kredit pembelian bahan pokok bagi warga miskin. Di jalanan Teheran, warga sudah memotong pengeluaran, mengurangi konsumsi daging, menunda segala yang tidak esensial.
Dua narasi ini bertabrakan keras. Washington klaim tekanan ekonominya efektif. Teheran klaim sudah menang secara militer dan siap bertahan. Hampir enam bulan konflik berlalu, tidak ada tanda-tanda salah satu pihak sudah dekat dengan garis finish. Gallego menyebutnya "rawa". Bagi pasar energi global yang mengikuti perkembangan ini, pilihan katanya terasa cukup akurat.