KAMIS, 15 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Penusukan Massal di Supermarket Incheon, Pelaku Ma...

Internasional

Penusukan Massal di Supermarket Incheon, Pelaku Masih Berstatus Tahanan Elektronik

Seorang pria 59 tahun menyerang pengunjung supermarket Homeplus di Incheon dengan pisau yang diikatkan ke kedua tangannya, melukai delapan orang. Yang membuat kasus ini meledak jadi kontroversi: pelaku masih berada di bawah pengawasan elektronik saat melancarkan serangan.

Penusukan di Supermarket Korsel Lukai 8 Orang, Pelaku Bawa 10 Pisau Lebih

Serangan terjadi sekitar pukul 13.40 waktu setempat, di lantai supermarket Homeplus di Incheon, salah satu jaringan ritel diskon terbesar di Korea Selatan. Seorang pria berusia 59 tahun menyerang siapa saja yang ada di sekitarnya dengan pisau yang diikatkan langsung pada kedua tangannya, sebelum akhirnya dilumpuhkan oleh pengunjung dan staf toko menggunakan kursi dan nampan.

Delapan orang dilarikan ke rumah sakit, terdiri dari enam perempuan dan dua laki-laki. Satu korban, seorang perempuan berusia dua puluhan, mengalami henti jantung. Korban lain mengalami luka tusuk di punggung dan bahu. Otoritas langsung mendirikan pusat layanan medis darurat di lantai satu gedung. Di dalam tas pelaku, petugas menemukan lebih dari 10 pisau tambahan.

Rekaman CCTV memperlihatkan pelaku berlari melintasi ruangan dengan senjata yang masih terikat di tangannya. Cara mengikat pisau ke tangan itu sendiri sudah mengisyaratkan serangan yang direncanakan, bukan impulsif. Bukan aksi spontan orang kalap.

Yang kemudian membuat kasus ini melampaui sekadar berita kriminal biasa adalah latar belakang pelaku. Pria itu bukan orang asing di sistem hukum Korea Selatan. Pada 2015, ia berulang kali menikam mantan istrinya setelah perempuan itu menolak ajakannya untuk rujuk, lalu divonis empat tahun penjara atas percobaan pembunuhan. Setelah bebas, ia diwajibkan memakai alat pemantau elektronik di pergelangan kaki selama 10 tahun, dengan larangan keluar rumah mulai tengah malam hingga pukul 06.00.

Pada hari kejadian, sebelum pergi ke Homeplus, pelaku sempat menemui konselor kecanduannya, lalu makan siang bersama petugas pengawas masa percobaannya. Semua berlangsung normal. Beberapa jam kemudian ia menusuk delapan orang di supermarket, sementara gelang elektronik masih melingkar di pergelangan kakinya. Entah kebetulan atau tidak, petugas pengawas itu juga orang terakhir yang berbicara dengannya sebelum serangan.

Kementerian Kehakiman Korea Selatan langsung menyampaikan permintaan maaf terbuka. "Kami menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya karena telah menimbulkan kekhawatiran besar di masyarakat akibat serangan penusukan hari ini di Incheon yang melibatkan seseorang dalam pengawasan elektronik," demikian pernyataan resmi kementerian. Penyelidikan menyeluruh dijanjikan, mencakup kronologi serangan hingga seluruh proses pemantauan yang dijalani tersangka. Klaim yang, kalau data ini bisa dipercaya, harus segera dibuktikan dengan konkret, bukan sekadar siaran pers.

Korea Selatan selama ini masuk kategori negara dengan tingkat kejahatan kekerasan yang rendah. Statistik 2021 mencatat angka pembunuhan hanya 1,3 per 100.000 penduduk, jauh di bawah rata-rata global sekitar enam kasus. Tapi tren belakangan agaknya mulai menggerus reputasi itu. Mei 2025, seorang pria menikam tiga polisi. September 2025, tiga orang tewas dalam serangan di restoran pizza di Seoul. Dan kini Incheon.

Polisi Namdong Incheon masih menyelidiki motif pelaku. Pertanyaannya, apakah motif bahkan relevan di sini? Yang lebih mendesak mungkin justru ini: mengapa seseorang dengan riwayat kekerasan yang terdokumentasi rapi bisa berjalan bebas ke pusat perbelanjaan dengan lebih dari sepuluh pisau di tasnya, sementara sistem yang seharusnya memantaunya tidak berkedip sedikit pun.