KAMIS, 1 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Penumpang Mabuk Gigit Pramugari, Qantas Darurat Me...

Internasional

Penumpang Mabuk Gigit Pramugari, Qantas Darurat Mendarat di Tahiti

Penerbangan Qantas rute Melbourne-Dallas terpaksa dibelokkan ke Papeete setelah seorang penumpang dalam kondisi mabuk mengamuk dan menggigit pramugari. Pelaku kini dilarang terbang permanen di seluruh armada Qantas dan Jetstar.

Penumpang Gigit Pramugari, Penerbangan Qantas Tujuan Dallas Terpaksa Dialihkan

Penerbangan QF21 Qantas dari Melbourne ke Dallas pada Jumat (15/5/2026) pukul 14.30 waktu setempat tidak pernah sampai ke tujuan sesuai jadwal. Bukan cuaca buruk, bukan masalah teknis. Satu penumpang memilih kabin pesawat sebagai panggung.

Tujuh jam setelah lepas landas, pilot membelokkan pesawat ke Papeete, ibu kota Polinesia Prancis di Tahiti. Di penerbangan lintas Pasifik berjarak ribuan kilometer, keputusan seperti itu tidak datang gratis, bahan bakar terbuang, jadwal berantakan, puluhan penumpang terdampak. Tapi situasi di kabin rupanya sudah melampaui apa yang bisa ditoleransi kru.

Pria itu, belakangan dikonfirmasi bukan warga Australia, tampak sempoyongan sejak awal kejadian. Bicaranya tidak jelas. Komika Mike Goldstein merekam dan mengunggahnya ke media sosial: si pria memaki kru berulang kali, menolak dipindah ke bagian belakang, dan, ini yang paling menggelikan, mengaku ingin "keluar untuk merokok". Entah panik, entah benar-benar tidak sadar sedang melayang di ketinggian ribuan kaki. Awak kabin menegurnya keras, menyebut kelakuannya seperti "jam murahan". Video itu tidak menangkap momen gigitan. Tapi tegangnya situasi sudah terbaca jelas.

Penumpang lain akhirnya ikut menahan dan menenangkan pria tersebut. Begitu pesawat menyentuh apron Papeete, otoritas lokal langsung naik dan mengamankannya. Pesawat singgah sekitar 35 menit, cukup untuk penanganan dan pengisian bahan bakar, sebelum melanjutkan perjalanan dan mendarat di Dallas pada Sabtu (16/5/2026) pagi.

Qantas menjatuhkan larangan terbang permanen. Berlaku di seluruh armada Qantas maupun Jetstar. "Keselamatan pelanggan dan awak kami adalah prioritas nomor satu. Kami tidak mentoleransi perilaku kasar atau mengancam di dalam pesawat," kata juru bicara maskapai.

Insiden ini bukan yang pertama, agaknya bukan yang terakhir. April 2026, seorang pria 45 tahun asal Queanbeyan didakwa atas perilaku agresif di penerbangan Canberra-Perth, termasuk mencoba menggigit penumpang lain saat sedang ditahan kru. Tiga dakwaan menjeratnya, salah satunya menyerang kru pesawat dengan ancaman hukuman tembus 14 tahun penjara. Pejabat Sementara Australian Federal Police Peter Brindal sampai perlu mengingatkan publik secara eksplisit: berada di udara tidak membebaskan siapa pun dari hukum dan konsekuensinya. Pernyataan yang terdengar terlalu mendasar untuk perlu diucapkan, tapi rupanya belum cukup dimengerti semua orang.