JUMAT, 16 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Pentagon Minta Anggaran Rp26 Kuadriliun, Drone Jad...

Internasional

Pentagon Minta Anggaran Rp26 Kuadriliun, Drone Jadi Andalan Hadapi China

AS mengajukan anggaran pertahanan hampir 1,5 triliun dolar untuk mempercepat pengembangan drone dan senjata otonom, dengan lonjakan dana khusus teknologi otonom mencapai 24.000 persen dalam satu tahun.

The Pentagon's proposed FY2027 budget contains an extraordinary increase for autonomous warfare. Funding for the Defense Autonomous Warfare Group (DAWG) would rise from approximately $225.9 million

Angka itu bukan salah ketik: 54,6 miliar dolar AS, atau sekitar Rp979 triliun, hanya untuk satu kelompok program senjata otonom. Naik hampir 24.000 persen dibanding tahun sebelumnya yang cuma Rp4 triliun, tapi tunggu dulu. Versi tepatnya: alokasi tahun sebelumnya tercatat 225,9 juta dolar AS. Lonjakan ke 54,6 miliar dolar itulah yang bikin angka kenaikannya terlihat absurd. Inilah salah satu poin paling mencolok dari permintaan anggaran pertahanan AS tahun fiskal 2027, yang totalnya mendekati 1,5 triliun dolar atau setara Rp26 kuadriliun.

Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyampaikan justifikasi atas permintaan jumbo itu di hadapan peserta pertemuan tahunan Association of the United States Army (AUSA), Rabu, 14 Oktober 2026. Konteksnya terang: China. Meski tanpa menyebut nama Beijing secara eksplisit, Hegseth merujuk langsung pada modernisasi militer negara itu sebagai ancaman yang berbeda kelas. "Ini adalah momen yang berbeda. Kita menghadapi pesaing yang kekuatan militernya sebanding dengan kita dan sedang membangun kekuatan militer, mungkin dengan peningkatan terbesar dalam sejarah dunia," tegasnya.

Pesan intinya sederhana, walau implikasinya tidak. "Siapa pun yang unggul sekarang akan semakin jauh di depan. Siapa pun yang tertinggal sekarang akan semakin jauh tertinggal," kata Hegseth. Kalimat itu terdengar seperti slogan motivasi, tapi di baliknya ada triliunan dolar yang sedang dipertaruhkan.

Ujung tombak strategi ini adalah Defence Autonomous Warfare Group (DAWG), badan yang dibentuk Pentagon untuk mengoordinasikan, menguji, dan mengintegrasikan senjata otonom lintas matra. Dari total 54,6 miliar dolar yang diminta, sebesar 39,2 miliar dolar disiapkan untuk investasi multitahun: pengadaan sistem otonom, peningkatan kapasitas produksi dalam negeri, dan pengembangan kemampuan militer canggih. Adapun 14,4 miliar dolar sisanya dialokasikan khusus untuk sistem penangkal drone. Sebagian besar dana itu, tepatnya 53,6 miliar dolar, bersumber dari paket rekonsiliasi anggaran senilai 350 miliar dolar. Satu miliar dolar lainnya berasal dari permintaan anggaran dasar.

Satu nama yang agaknya akan sering disebut adalah Project Agincourt. Inisiatif Pentagon untuk mempercepat pengembangan drone dan kapabilitas peperangan otonom secara menyeluruh. Hegseth menyebutnya sebagai muara dari seluruh upaya teknologi militer pemerintahan Trump sejak hari pertama. Bukan datang dari ruang hampa: proyek ini meneruskan inisiatif Replicator era Biden dan Drone Dominance Programme yang diluncurkan 2025, dua program yang sudah meletakkan fondasi infrastruktur drone tempur AS.

Diumumkan 30 September 2026, rencana itu juga mencakup pembentukan Autonomous Warfare Command, komando militer baru yang akan dipimpin perwira jenderal bintang empat paling lambat 1 Oktober 2027. Bukan sekadar reorganisasi birokrasi. Ini sinyal bahwa peperangan otonom naik kelas jadi domain militer tersendiri, setara angkatan darat, laut, dan udara dalam hierarki komando Pentagon.

Target paling konkret: satu juta drone. Kalau benar-benar terealisasi, angka itu akan mengubah lanskap pertempuran modern secara fundamental. Pertanyaannya, seberapa cepat industri pertahanan AS mampu mengejar target produksi itu? Rantai pasokan komponen drone masih banyak bergantung pada, ironi yang tidak kecil, China sendiri.