SELASA, 13 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Pentagon Kering Kas Usai Gempuran Iran, Gudang Rud...

Internasional

Pentagon Kering Kas Usai Gempuran Iran, Gudang Rudal Baru Pulih 2029

Kampanye militer AS di Iran menelan biaya lebih dari $95 miliar dan meninggalkan luka dalam: cadangan rudal terkuras habis, anggaran pelatihan dipangkas, dan industri pertahanan kewalahan memenuhi permintaan.

Militer AS... kehabisan uang.

Lebih dari $95,2 miliar sudah terbakar untuk operasi militer AS di Iran, dan tagihan itu agaknya belum selesai. Krisis yang kini menggelayuti Pentagon bukan lagi soal strategi di medan tempur, tapi soal sesuatu yang lebih mendasar: kas yang menipis dan gudang rudal yang nyaris kosong.

Data Iran War Cost Tracker, bersumber dari laporan resmi Pentagon ke Kongres AS, memperinci skala pengeluaran itu. Dalam enam hari pertama konflik, Washington membakar $11,3 miliar. Setelah itu, ritmenya sekitar $1 miliar per hari. Angka $29 miliar yang muncul di sidang anggaran 12 Mei lalu hanyalah hitungan amunisi dan pesawat yang hancur, disampaikan Pengontrol Anggaran Jules Hurst III di hadapan subkomite pertahanan Komite Alokasi Anggaran DPR. Tidak termasuk biaya rekonstruksi pangkalan militer AS di Timur Tengah yang kena hajar serangan Iran. Sumber-sumber di lingkaran pertahanan menyebut angka sesungguhnya bisa menyentuh $40-50 miliar.

Yang bikin dahi berkerut, krisis keuangan ini meledak jauh lebih awal dari biasanya. Lazimnya militer AS baru terengah-engah di ujung tahun fiskal, sekitar September. Kali ini masalahnya sudah muncul di pertengahan tahun, cerminan betapa kampanye Iran benar-benar menguras sumber daya.

Laksamana Daryl Caudle, komandan tertinggi Angkatan Laut AS, berterus terang kepada anggota Komite Angkatan Bersenjata DPR bahwa anggaran angkatan laut 2026 "tidak memperhitungkan kampanye di Iran." Dampaknya nyata di lapangan: latihan dibatasi, jam terbang penerbang dipangkas, kursus rekrutan dibatalkan. Korps III Angkatan Darat yang mengelola sekitar 70.000 prajurit dan ratusan tank sudah kehilangan hampir $292 juta dari anggaran pelatihan sejak akhir April. Sekolah Kedokteran Angkatan Darat pun ikut kolaps, menghentikan puluhan program. "Perekrutan akan terhambat jika tidak ada pendanaan tambahan untuk mendistribusikan individu-individu ini ke unit-unit setelah mereka meninggalkan pusat pelatihan. Kami juga kesulitan membayar bonus pendaftaran dan perpanjangan masa tugas," kata Caudle kepada para anggota dewan.

Tapi soal anggaran operasional hanyalah bagian dari luka yang lebih dalam. Laporan Center for Strategic and International Studies yang dirilis Rabu (27/5/2026) membongkar betapa parahnya kondisi gudang persenjataan AS. Dalam kampanye Iran, militer AS menembakkan sekurangnya 1.000 rudal Tomahawk, lebih dari 1.100 JASSM, 130-250 unit SM-3, 190-370 SM-6, serta menghabiskan hingga 290 THAAD dan 1.430 rudal Patriot. Bukan angka kecil.

Industri pertahanan AS tidak dalam posisi untuk langsung mengisinya kembali. Kapasitas produksi Raytheon untuk Tomahawk baru 207 unit per tahun, sementara kebutuhan pengisian ulang menyentuh 785 unit. Lockheed Martin hanya bisa membuat 96 THAAD setahun, padahal permintaan pengisian ulang mencapai 857 unit. Patriot sedikit lebih baik dengan produksi 650 unit per tahun, tapi antrean yang harus dipenuhi mencapai 3.203 unit. Pengiriman batch besar Tomahawk baru dimulai Maret 2030 setelah 34 bulan proses produksi. Untuk THAAD, pertengahan 2029. Cadangan rudal AS, menurut CSIS, baru bisa pulih sepenuhnya paling cepat pada 2029.

Antrean makin panjang karena sekutu pun menunggu giliran. Jepang memesan 400 Tomahawk, Australia 200 unit, Belanda 175 unit. Washington sudah memperingatkan Tokyo bahwa pengiriman bisa terlambat dua tahun dari jadwal. Bagi Jepang yang mengandalkan Tomahawk berjangkauan 1.600 km sebagai tulang punggung pertahanannya, dan sedang menghitung-hitung skenario Selat Taiwan, keterlambatan ini bukan sekadar gangguan logistik. Bukan main.

Di Capitol Hill, tekanan terhadap pemerintahan Trump semakin keras. Anggota Kongres Republik Ken Calvert, yang mengetuai subkomite pertahanan Komite Alokasi Anggaran DPR, mengingatkan bahwa "biaya tersembunyi" konflik Iran akan terus bermunculan seiring waktu: keausan peralatan, kebutuhan perbaikan yang menumpuk, dan pengisian kembali persediaan rudal yang tidak bisa disulap dalam semalam. Menteri Perang Pete Hegseth berkali-kali didesak untuk segera mengajukan permintaan pendanaan tambahan. Hingga kini, belum ada proposal konkret yang masuk ke Kongres.

Pertanyaannya sederhana tapi tidak nyaman: jika konflik lain meletus sebelum 2029, dari mana AS akan menembakkan apa?