SABTU, 3 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Penjualan Eceran Terjun Usai Lebaran, Tekanan Baha...

Ekonomi

Penjualan Eceran Terjun Usai Lebaran, Tekanan Bahan Baku Ancam Margin Bisnis

Bank Indonesia memproyeksikan Indeks Penjualan Riil April 2026 terkoreksi 10 persen secara bulanan seiring normalisasi pasca-Lebaran, sementara tekanan harga bahan baku berpotensi memeras margin pelaku usaha hingga September.

BI prakirakan kinerja penjualan eceran terjaga pada April 2026

Efek Lebaran sudah habis. Datanya pun mulai masuk.

Bank Indonesia merilis proyeksi Indeks Penjualan Riil (IPR) April 2026 sebesar 231,0, turun 10,0 persen secara bulanan dari realisasi Maret 2026 yang mencapai 256,7. Secara tahunan, angka ini juga tergerus 1,9 persen dibanding April 2025. Bukan kejutan besar, sebetulnya, pola serupa muncul tiap tahun setelah Ramadan dan Idulfitri. Tapi kali ini ada yang berbeda: tekanan dari sisi harga bahan baku mulai terlihat di cakrawala.

Penurunan IPR April, menurut Ramdan Denny Prakoso, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, terutama dipicu normalisasi permintaan pasca-HBKN. Kontraksi terdalam terjadi pada kelompok barang budaya dan rekreasi yang amblas 14,1 persen secara bulanan, diikuti peralatan informasi dan komunikasi minus 10,9 persen, serta makanan, minuman, dan tembakau minus 10,7 persen. Wajar, memang. Orang sudah beli baju, sudah mudik, sudah beli gadget buat anak. Sekarang saatnya dompet istirahat.

Tiga segmen masih bertahan tumbuh secara tahunan: suku cadang dan aksesori naik 18,8 persen yoy, subkelompok sandang tumbuh 4,4 persen yoy, dan perlengkapan rumah tangga lainnya naik tipis 1,4 persen yoy. Agaknya ini cerminan pola konsumsi yang lebih fungsional setelah belanja musiman mereda.

Sepintas ke Maret 2026. IPR bulan itu mencapai 256,7, tumbuh 10,3 persen secara bulanan dari Februari yang hanya naik 4,1 persen. Puncak Ramadan selalu mengertak data konsumsi, dan Maret 2026 tidak berbeda. Subkelompok sandang melesat 26,2 persen month-to-month, makanan dan minuman naik 10,8 persen, bahan bakar kendaraan bermotor terkerek 9,3 persen, seiring lonjakan mobilitas dan belanja selama periode hari besar.

Namun sinyal yang lebih serius justru datang dari sisi harga. Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) untuk Juni 2026 melonjak ke 175,6, jauh di atas IEH Mei 2026 yang berada di level 157,4. Untuk September 2026, IEH diproyeksikan di angka 163,2, juga lebih tinggi dari IEH Agustus yang tercatat 157,2. BI mengidentifikasi kenaikan harga bahan baku sebagai pendorong utama ekspektasi ini.

Bukan inflasi permintaan. Tekanan yang terbentuk bersifat cost-push, dorongan datang dari sisi produksi. Dalam skenario seperti ini, volume penjualan yang besar tidak otomatis menolong karena margin diperas dari dua sisi sekaligus: harga pokok naik, sementara konsumen belum tentu bersedia membayar lebih. Kalau data ini bisa dipercaya sepenuhnya, ini bisa jadi salah satu tekanan margin paling tidak enak buat pelaku usaha ritel sepanjang 2026.

Kompleksitasnya bertambah ketika melihat sisi permintaan. Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) untuk Juni 2026 justru tergerus ke 136,8 dari 147,2 pada Mei. September lebih suram: IEP diproyeksikan hanya 137,8, turun dari 162,4 pada Agustus. Musim ujian sekolah di Juni secara struktural mengalihkan anggaran rumah tangga, sementara September memasuki fase normalisasi tanpa dorongan momen besar.

Bagi pelaku usaha, terutama UMKM berbasis produksi, ini bukan sekadar angka di laporan bank sentral. Biaya naik, pembeli melambat. Pertanyaannya: seberapa siap struktur biaya dan arus kas bisnis untuk merespons perubahan ini tanpa kehilangan pelanggan dan margin sekaligus? Pertanyaan itu makin mendesak dijawab sebelum Juni tiba.