Tujuh. Angka itulah yang kini tertulis dalam daftar duka UNIFIL sejak konflik terbaru di Lebanon pecah pada 2 Maret 2026, setelah seorang tentara Serbia menjadi korban terbaru Kamis pagi ini.
Sersan Senior Milovan Jovanovic tewas akibat luka kritis yang diderita ketika peluru mortir menghantam posisinya di dekat Marjayoun, kawasan tenggara Lebanon, pada Rabu malam. Ia sempat mendapat perawatan darurat di fasilitas medis dalam pangkalan, lalu diterbangkan dengan helikopter ke Pusat Medis Universitas di Beirut. Nyawanya tidak tertolong. Dua penjaga perdamaian lainnya ikut terluka dalam insiden yang sama dan masih menerima perawatan di fasilitas UNIFIL.
Asal tembakan mortir itu sampai kini belum dipastikan. UNIFIL menyatakan penyelidikan telah diluncurkan dan mendesak "otoritas nasional terkait" untuk turut menginvestigasi. Marjayoun bukan nama baru dalam berita duka semacam ini. Di distrik yang sama, akhir Maret lalu, markas kontingen TNI di Adshit al-Qusayr kena hantam artileri, menewaskan Praka Farizal Rhomadhon dan seorang rekannya.
Sekitar 7.500 personel dari hampir 50 negara kini berjaga di sepanjang Garis Biru, perbatasan de facto 120 kilometer antara Lebanon dan Israel. Sekitar 170 di antaranya berasal dari Serbia. Mereka berdiri persis di titik paling panas konflik yang intensitasnya terus meningkat. Betapa padatnya lalu lintas proyektil di zona ini: dalam tiga hari saja, UNIFIL mencatat lebih dari 1.296 lintasan yang dikaitkan dengan Pasukan Pertahanan Israel, plus 64 lintasan dari arah Hizbullah.
Rekam jejak korban sejak Maret cukup panjang untuk bikin bulu kuduk berdiri. Dua penjaga perdamaian Indonesia gugur akibat tembakan yang penyelidikan awal PBB kaitkan dengan peluru tank Israel. Tidak berselang lama, dua Helm Biru Indonesia lainnya tewas akibat alat peledak rakitan yang menurut temuan PBB kemungkinan besar dipasang oleh Hizbullah. April, giliran dua penjaga perdamaian Prancis tewas dalam penyergapan yang diatribusikan ke Hizbullah, meski kelompok itu membantah.
UNIFIL tidak main-main dalam memilih kata. "Serangan yang disengaja terhadap pasukan penjaga perdamaian merupakan pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional dan Resolusi Dewan Keamanan 1701, dan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang," tegas misi tersebut dalam pernyataannya.
Ironis, kematian Jovanovic terjadi hanya beberapa jam sebelum AS mengumumkan perpanjangan gencatan senjata antara Lebanon dan Israel pada Rabu. Gencatan senjata yang, agaknya, tidak terlalu dihiraukan oleh semua pihak. Menteri Pertahanan Israel Israel Katz terang-terangan menyatakan operasi militer akan terus berjalan sampai Hizbullah tersingkir dari wilayah selatan Sungai Litani. Juru bicara militer Israel Avichay Adraee pun memperingatkan warga menghindari perjalanan ke selatan Sungai Zahrani, dengan kalimat yang tidak bisa lebih gamblang: "siapa pun yang bergerak ke selatan mempertaruhkan nyawa mereka."
Sejak 2 Maret, serangan Israel di Lebanon telah menewaskan lebih dari 3.500 orang, melukai lebih dari 10.600 lainnya, dan memaksa lebih dari satu juta orang meninggalkan rumah mereka. Angka yang tidak main-main.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada Senin pekan ini menyatakan pasukan penjaga perdamaian masih akan dibutuhkan di Lebanon bahkan setelah mandat UNIFIL berakhir akhir tahun ini. Usulan yang bisa jadi kandas, kalau data ini bisa dipercaya, mengingat Amerika Serikat dan Israel dikabarkan akan menentangnya. Di Marjayoun dan sekitarnya, mortir terus berjatuhan.