Tepat pukul 09.15 waktu Manila, Senin (21/7/2026), kapal Penjaga Pantai China 21560 mengerahkan perahu karet lambung kaku berisi delapan personel untuk mengitari BRP Sierra Madre, kapal tua yang sengaja dikandaskan Filipina di Second Thomas Shoal sebagai pos militer. Ketika dua perahu karet Angkatan Laut Filipina dikerahkan untuk menghalau, situasi bergulir buruk lebih cepat dari yang bisa diantisipasi.
Satu personel Angkatan Laut Filipina dipukul di kepala menggunakan tongkat kayu. Cedera kepala serius. Perahu karet mereka ikut rusak dalam insiden itu.
Satuan Tugas Nasional untuk Laut Filipina Barat (NTF-WPS) mengonfirmasi kejadian ini dalam pernyataan resmi, menyebut tindakan Beijing sebagai bagian dari "pola tindakan provokatif dan bermusuhan" yang sudah berulang kali terjadi. Kementerian Pertahanan Filipina memakai frasa yang sama: provokatif. Kedutaan Besar China di Manila, hingga berita ini diturunkan, memilih diam.
Waktunya agaknya bukan kebetulan. Hanya beberapa jam sebelum insiden, Kementerian Luar Negeri Filipina mengumumkan bahwa menteri luar negeri kedua negara akan bertemu dalam rangkaian pertemuan tingkat ASEAN di Manila pekan ini. Alih-alih menjadi sinyal meredanya ketegangan, insiden Second Thomas Shoal justru meletakkan beban baru di meja perundingan.
Ini bukan yang pertama, dan pola ini sudah familiar bagi siapa pun yang mengikuti konflik ini dari dekat. Pada Juni 2024, personel China yang membawa pisau, tongkat, dan kapak menyerang pasukan Filipina yang sedang mencoba mengirim pasokan ke garnisun di lokasi yang sama. Sebulan setelahnya, kedua negara sempat mengumumkan kesepakatan sementara soal misi pengiriman. Kesepakatan itu kini terasa seperti tinta yang sudah lama pudar.
Ketegangan pekan ini tak berhenti di laut. Pada Jumat (17/7), Manila mengajukan protes diplomatik atas sebuah video yang beredar di media pemerintah China, menampilkan orang Filipina dalam wujud kartun monyet. Juru bicara kepresidenan Filipina menyebut video itu sebagai bentuk diskriminasi yang tidak dapat diterima, sekaligus mendesak komunitas internasional untuk lebih sensitif terhadap isu ras dan identitas.
Dua lini konfrontasi dalam satu pekan, satu di laut dan satu di ruang digital. China mengklaim hampir seluruh Laut China Selatan meski tribunal internasional pada 2016 telah menegaskan klaim itu tidak punya dasar hukum. Klaim yang sudah dibantah secara hukum, namun terus dipertahankan dengan cara-cara yang makin sulit diabaikan Manila. Pertanyaannya, berapa lama Filipina sanggup menyerap tekanan semacam ini sebelum kalkulasi strategisnya berubah?