SENIN, 12 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Pemilu Israel 27 Oktober, Nasib Netanyahu di Ujung...

Internasional

Pemilu Israel 27 Oktober, Nasib Netanyahu di Ujung Tanduk

Israel resmi menetapkan pemilihan umum pada 27 Oktober 2026, sekaligus menepis spekulasi percepatan. Bagi Netanyahu, pemilu ini nyaris seperti referendum atas kepemimpinannya sejak perang Gaza meletus.

Israel Akan Gelar Pemilu pada 27 Oktober 2026

Tanggal 27 Oktober sudah terkunci. Knesset memastikan pemilihan umum Israel digelar sesuai jadwal, menepis spekulasi panjang soal kemungkinan percepatan yang sempat beredar di kalangan pengamat politik.

Masa kampanye resmi dimulai 17 Juli, bertepatan dengan reses Knesset. Sejak itu, kabinet Benjamin Netanyahu beralih status menjadi pemerintahan sementara dengan kewenangan yang jauh lebih sempit: tidak bisa mengajukan kebijakan strategis baru, tidak bisa mendorong manuver legislatif besar. Yang boleh jalan hanya urusan administratif rutin dan langkah-langkah darurat terkait keamanan nasional.

Netanyahu, perdana menteri dengan masa jabatan terpanjang dalam sejarah Israel, sudah menyatakan niat maju lagi. Juni lalu, dalam sebuah konferensi pers, ia menyebut ingin membentuk "pemerintahan nasional yang lebih luas" setelah pemungutan suara, bukan koalisi sayap kanan sempit, bukan pula bergantung pada partai-partai Arab. Kalau dibaca lebih jauh, ini sinyal terang bahwa ia sedang mencoba menggeser narasi kampanye dari soal ideologi ke soal persatuan.

Bukan tanpa perhitungan. Koalisi petahana, yang selama ini bersandar pada partai sayap kanan dan kelompok ultra-Ortodoks, diperkirakan hanya mampu meraup sekitar 53 kursi dari total 120 kursi Knesset berdasarkan jajak pendapat terbaru. Jauh dari ambang mayoritas. Tak heran kalau menjelang pemilu, pemerintahannya ngebut meloloskan sejumlah rancangan undang-undang sebagai bekal masuk ke kontestasi dari posisi yang relatif kokoh.

Tapi medan yang dihadapi Netanyahu berat. Mayoritas warga Israel, menurut sejumlah survei yang dirilis media-media lokal, menginginkan ia lengser. Mantan kepala militer Gadi Eisenkot muncul sebagai penantang serius, sosok yang identik dengan kritik tajam terhadap penanganan krisis keamanan pasca-7 Oktober.

Dua luka lama masih menganga. Kegagalan sistem pertahanan yang memungkinkan serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 lolos begitu saja, trauma yang entah kapan selesai diproses publik Israel. Lalu ada gencatan senjata yang mengakhiri konflik Israel dan AS melawan Iran pada akhir Februari, berujung pada kesepakatan antara Teheran dan Washington. Banyak kalangan di Israel menganggap kesepakatan itu merugikan pihak mereka. Kemarahan atas hal itu ikut membebani nama Netanyahu, bak batu yang terus menggantung di lehernya memasuki musim kampanye.

Pertanyaannya sekarang bukan cuma soal siapa yang menang. Apakah manuver "pemerintahan nasional luas" ala Netanyahu cukup membalik arus opini publik yang sudah terlanjur mendingin terhadapnya? Oktober akan menjawab.