JUMAT, 9 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Pemakaman Khamenei: Ritual Duka yang Memikul Beban...

Internasional

Pemakaman Khamenei: Ritual Duka yang Memikul Beban Geopolitik

Di tengah gempuran AS yang kembali meningkat, Iran memakamkan Ali Khamenei di Mashhad dengan prosesi yang jauh melampaui makna seremonial belaka.

Pesan Politik Pemakaman Ali Khamenei dan Geopolitik Selat Hormuz

Jenazah Ayatollah Ali Khamenei tiba di Mashhad pada Kamis (9/7) malam, dikebumikan di kompleks Makam Imam Reza, tempat paling keramat di Iran. Prosesi panjang itu melintas dari Teheran ke Qom, menyeberang ke Najaf dan Karbala di Irak, sebelum berakhir di kota kelahiran sang pemimpin tertinggi. Bukan sekadar penghormatan terakhir.

Gubernur Mashhad Hassan Hosseini memperkirakan 15 juta orang hadir dalam prosesi pemakaman terakhir. Angka yang sulit diverifikasi, tapi secara visual tidak bisa diabaikan begitu saja.

Pemakaman ini berlangsung persis saat Amerika Serikat kembali menggencarkan serangan terhadap target-target Iran, menyusul runtuhnya gencatan senjata yang memang sejak awal sudah rapuh. Trump mengumumkan gencatan senjata telah berakhir, lalu memperingatkan serangan yang "jauh lebih parah" jika Iran terus mengganggu pelayaran di Selat Hormuz. Entah kebetulan atau tidak, dua peristiwa besar ini terjadi dalam satu waktu, dan pemerintah Iran tampaknya sangat memahami nilai dramatisnya.

Khamenei wafat pada hari pertama serangan gabungan AS-Israel yang mengawali perang, 28 Februari 2026. Bersamanya turut tewas putrinya, menantu laki-lakinya, istri Mojtaba, dan seorang cucu perempuan yang masih bayi, semuanya dalam serangan yang sama. Iran kemudian memilih Mojtaba Khamenei sebagai penerus, tapi putra sang pemimpin itu kabarnya masih luka-luka akibat serangan yang sama, dan sejak dipilih belum sekalipun muncul di hadapan publik.

Karena itu, prosesi pemakaman ini menanggung beban yang lebih berat dari yang terlihat di permukaan. Republik Islam sedang menunjukkan kepada dunia bahwa mereka belum runtuh. Bahwa lautan manusia yang memenuhi jalan-jalan Teheran hingga Mashhad bukan pertanda krisis, melainkan sebaliknya.

Imam salat Jumat Qom, Ayatollah Mohammad Saidi, menyebut prosesi ini sebagai "referendum" bagi Republik Islam. Pernyataan yang mengandung makna tersendiri, mengingat Iran tengah menanggung tekanan ekonomi berat akibat sanksi internasional, inflasi, dan gelombang ketidakpuasan domestik yang sempat mengguncang negeri itu sebelum perang pecah.

Narasi yang dibangun pemerintah Iran jelas. Khamenei dikonstruksi bukan sekadar pemimpin negara yang gugur, melainkan syahid Revolusi Islam. Bendera merah sebagai simbol balas dendam Syiah dikibarkan di mana-mana. Poster anti-Amerika, slogan kematian bagi Trump dan Netanyahu, semuanya hadir dalam prosesi. Negara sedang mengubah ruang duka menjadi ruang mobilisasi ideologis. Ini bukan pertama kalinya, kalau data sejarah bisa dipercaya: pemakaman Khomeini pada 1989 meninggalkan impresi serupa, dan Iran terlihat cukup terlatih mereplikasinya.

Delegasi asing dari puluhan negara hadir. Pakistan, India, China, Afghanistan, negara-negara Kaukasus. Kehadiran mereka bukan hal yang bisa dibaca sebagai basa-basi diplomatik semata. Iran sedang mempertontonkan bahwa dirinya masih punya ruang gerak yang luas di tengah isolasi yang dipaksakan Barat.

Di Selat Hormuz, eskalasi terus berjalan. Ancaman pengenaan tarif bagi kapal-kapal yang melintas, yang disampaikan Duta Besar Iran untuk China Abdolreza Rahmani Fazli, mencerminkan pergeseran paradigma yang agaknya sudah lama disiapkan. Iran tidak lagi hanya mengandalkan gertakan militer. Mereka mulai membangun instrumen kontrol ekonomi atas jalur yang menanggung sekitar seperlima distribusi minyak dunia. Klaim bahwa negara-negara sahabat akan mendapat "perlakuan khusus" bukan sekadar diplomasi ekonomi, melainkan pembentukan logika baru hubungan internasional berbasis loyalitas geopolitik.

Bargaining chip. Itulah kata yang paling tepat untuk menggambarkan Hormuz sekarang, menggantikan sebagian fungsi deterensi militer yang mungkin terkikis akibat kerusakan perang. Strategi ini cerdik sekaligus berisiko, ibarat pedang bermata dua yang bisa berbalik arah kapan saja.

Pemakaman Khamenei di kompleks Makam Imam Reza, bersama anggota keluarganya yang turut tewas dalam serangan yang sama, menutup satu babak panjang sejarah Republik Islam. Babak berikutnya dipimpin seseorang yang belum sekalipun menampakkan diri ke publik. Bentuknya belum jelas. Yang jelas, dunia tidak akan bisa menatap Selat Hormuz dengan cara yang sama lagi.