Jutaan pelayat tumpah ruah ke jalanan Teheran sejak dini hari, membawa bendera Iran, ketika shalat jenazah untuk Ali Khamenei digelar di Masjid Imam Khomeini Mosalla pada Ahad lalu. Dipimpin ulama senior Syiah Ayatollah Jafar Sobhani, upacara itu dihadiri Presiden Masoud Pezeshkian, petinggi militer, dan politisi senior dari seluruh penjuru negeri.
Khamenei gugur dalam serangan militer gabungan AS-Israel pada 28 Februari 2026, bersama anak dan menantunya di Teheran, bukan di pengungsian seperti yang sempat beredar dalam rumor. Prosesi pemakamannya dirancang panjang dan melintas batas: setelah Teheran, jenazah dibawa ke Qom pada 7 Juli, kemudian ke Baghdad, Najaf, dan Karbala di Irak pada 8 Juli, sebelum akhirnya dikebumikan pada 9 Juli di Makam Imam Ali Reza di Mashhad, salah satu tempat paling suci dalam Islam Syiah.
Rangkaian prosesi sepanjang seminggu lebih itu bukan tanpa kalkulasi. Perwakilan dari 30 negara hadir memberi penghormatan di Teheran, termasuk Wakil Menteri Luar Negeri Arab Saudi Waleed Al-Khereiji. Sinyal yang tidak bisa diabaikan, mengingat ketegangan Riyadh-Teheran yang sudah puluhan tahun. Duta Besar RI Rolliansyah Soemirat turut hadir mewakili pemerintah Indonesia.
Bagi Iran, kehadiran delegasi sebanyak itu adalah jawaban telak atas narasi isolasi. Negara yang sudah hampir setengah abad dihantam sanksi AS sejak Revolusi 1979 itu memperlihatkan bahwa masih cukup banyak pihak yang mau datang. Logistik yang menyertai prosesi pun tidak main-main: jutaan orang yang perlu diatur dari segi keamanan, transportasi, penginapan, hingga dapur umum yang beroperasi di sejumlah kota, dikelola gabungan pemerintah dan swasta.
"Prinsip Syiah sangat akrab dengan pandangan bahwa kematian adalah suatu jalan menuju kemuliaan. Kematian Ali Khamenei secara syahid justru memperkuat kecintaan dan loyalitas rakyat Iran pada sosok Khamenei dan prinsip-prinsip yang diusungnya," kata Kholid Al Walid, Guru Besar Filsafat Islam UIN Syarif Hidayatullah, yang hadir langsung dari Qom.
Sementara jenazah Khamenei menempuh perjalanan terakhirnya, Iran tengah dalam proses penataan kepemimpinan yang, agaknya, lebih bergejolak dari yang tampak di permukaan. Mojtaba Khamenei, putra mendiang yang dilaporkan cedera parah dalam serangan 28 Februari, telah dipilih sebagai Pemimpin Tertinggi baru. Tapi sosoknya belum sekali pun muncul di hadapan publik sejak penetapan itu. Banyak pihak bertanya-tanya.
Alasannya, menurut Kholid, bukan soal nyali. Israel secara terbuka sudah beberapa kali menyatakan niat membunuh Mojtaba. "Bukan soal takut mati, melainkan sekiranya pemimpin tertinggi terbunuh lagi, sangat dikhawatirkan akan terjadi perang habis-habisan. Iran butuh stabilitas negara dengan kepemimpinan yang tetap aman," ujarnya. Diplomat anonim yang diwawancarai The Washington Post berpandangan serupa: Iran butuh Mojtaba tetap hidup dulu sebelum bisa memimpin.
Namun di dalam negeri, transisi ini tidak berlangsung mulus. Wakil Presiden Mohammad-Jafar Ghaempanah secara terbuka menyatakan bahwa pendapat Mojtaba bukan keputusan final, dan mempertanyakan untuk apa ada parlemen jika segalanya harus merujuk pada pemimpin tertinggi. Di era Ali Khamenei, pernyataan seperti itu tidak akan pernah keluar dari mulut pejabat manapun. Anggota parlemen Mahmoud Nabavian bahkan menuding ada upaya kudeta terhadap pemimpin tertinggi yang baru.
Api dalam sekam. Tegangan internal makin memanas di meja perundingan dengan AS. Pezeshkian dan Menlu Abbas Araghchi dicap kelompok garis keras sebagai pengkhianat karena memilih jalan diplomasi. Taruhannya besar: kesepakatan yang kini dirundingkan Araghchi berpotensi menghasilkan konsesi senilai 300 miliar dolar AS, jauh melampaui deal nuklir 2015 yang hanya menghasilkan 1,7 miliar dolar AS. Pezeshkian, menurut sumber The New York Times, bahkan menawarkan pengunduran diri kepada Mojtaba jika perundingan gagal disetujui.
Kepala Riset Iran di Institute for National Security Studies Israel, Raz Zimmt, mengakui bahwa serangan AS-Israel memang melemahkan Iran secara ekonomi dan di sejumlah sektor strategis. Tapi ada yang luput dari kalkulasi Washington. Iran kini justru lebih percaya diri. Pemerintahan baru diisi generasi yang tumbuh besar di bawah tekanan sanksi, pernah berhadapan langsung dengan AS dalam berbagai negosiasi, dan punya satu kesimpulan yang tertanam kuat: Iran bisa bertahan. Bukan kesimpulan yang akan membuat Washington tidur nyenyak.