RABU, 30 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Pemakaman Khamenei Ditetapkan 4-9 Juli, Tehran Gel...

Internasional

Pemakaman Khamenei Ditetapkan 4-9 Juli, Tehran Gelar Pengamanan Berlapis

Rangkaian upacara perpisahan dan pemakaman Ayatollah Ali Khamenei resmi dijadwalkan berlangsung 4-9 Juli 2026, melintas tiga kota: Teheran, Qom, hingga Mashhad, dengan delegasi asing mulai berdatangan pada 3 Juli.

Iran Siapkan Pengamanan dan Sambutan Delegasi Asing Jelang Upacara Pemakaman Nasional

Hampir lima bulan setelah tewas dalam serangan udara, prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei akhirnya mendapat kepastian jadwal. Panitia "Peringatan Kenaikan Berdarah Imam Militan yang Syahid" mengumumkan seluruh rangkaian upacara berlangsung 4 hingga 9 Juli 2026, dan bakal menjadi salah satu prosesi berkabung terbesar dalam sejarah Republik Islam Iran.

Masyarakat umum bisa memberikan penghormatan terakhir pada 4-5 Juli di Masjid Besar Imam Khomeini, Tehran. Tanggal itu bertepatan dengan 13-14 Tir dalam kalender Persia, atau 19-20 Muharam dalam kalender Hijriah. Prosesi pemakaman di Tehran kemudian dijadwalkan pada 6 Juli, berlanjut ke kota suci Qom pada 7 Juli. Penutup rangkaian: 9 Juli di Mashhad, bertepatan dengan malam peringatan wafat Imam Sajjad, imam keempat dalam tradisi Syiah.

Mashhad bukan pilihan acak. Khamenei lahir di kota timur laut Iran itu, dan akan dikebumikan di kompleks makam suci Imam Reza, salah satu situs ziarah paling sakral bagi umat Syiah sedunia. Jutaan peziarah datang ke sana setiap tahunnya. Pilihan lokasi ini punya bobot simbolis sekaligus politis yang sulit diabaikan.

Penundaan hampir lima bulan tidak terlepas dari situasi geopolitik yang memanas. Khamenei, 86 tahun, tewas pada 28 Februari 2026 dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menargetkan kediamannya di Tehran, bersama sejumlah anggota keluarganya. Perang yang kemudian meletus membuat penyelenggaraan pemakaman berkali-kali digeser. Setelah gencatan senjata tercapai pada 8 April, pemerintah Iran baru bisa menyusun ulang jadwal. Prosesi yang semula direncanakan Maret akhirnya mundur lebih dari tiga bulan. Ironisnya, konflik yang merenggut nyawa Khamenei pula yang memaksa pemakamannya menunggu.

Logistiknya tidak sederhana. Wakil Presiden Iran Mohammad Reza Aref mengungkapkan delegasi dan pejabat dari berbagai negara dijadwalkan mulai tiba Jumat, 3 Juli. Pemerintah menyiapkan skema penyambutan, pengaturan kehadiran dalam prosesi, hingga agenda pertemuan bilateral di sela kedatangan tamu negara. "Mulai hari Jumat, para tamu terhormat dari berbagai negara akan mulai memasuki negara ini untuk menghadiri upacara ini. Perencanaan yang tepat telah dilakukan untuk menyambut para tamu ini, mengatur kehadiran mereka dalam upacara-upacara yang diadakan, serta mengadakan pertemuan bilateral dengan para pejabat negara kita," kata Aref dalam rapat pemerintah.

Bukan perkara mudah. Seluruh elite politik Iran diperkirakan hadir serentak, dan pengamanan masif pun disiapkan. Aref menegaskan langkah-langkah mitigasi khusus telah diambil untuk mencegah kepadatan massa berujung insiden. "Pengawasan dan langkah-langkah khusus telah diambil untuk mencegah kepadatan dan kerumunan massa menyebabkan kecelakaan," tegasnya. Pemerintah berkoordinasi dengan kepolisian dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) untuk memastikan ketertiban di tiga kota penyelenggara.

Dimensi internasional prosesi ini agaknya tak kalah berat dari urusan domestiknya. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi telah berkoordinasi dengan Baghdad untuk menyiapkan mekanisme khusus penyelenggaraan upacara di tempat-tempat suci Syiah di Irak, sebuah hal yang ia sampaikan dalam konferensi pers bersama Menteri Luar Negeri Irak Fuad Hussein di Baghdad, meski belum merinci teknisnya. Araghchi juga menyinggung Selat Hormuz. "Selat tersebut tetap berada di bawah kendali Iran dan keadaan akan kembali normal setelah semua hambatan dihilangkan," katanya. Kalimat yang terdengar seperti pernyataan diplomatik biasa, tapi bisa juga dibaca sebagai sinyal peringatan.

Pertanyaannya, siapa yang mengisi kekosongan Khamenei? Putranya, Mojtaba, sempat menghilang dari sorotan sejak konflik meletus. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut Mojtaba mulai mengambil peran lebih aktif seiring berlanjutnya negosiasi pasca-gencatan senjata. Transisi kekuasaan di Tehran, entah kebetulan atau tidak, berlangsung bersamaan dengan momen pemakaman yang akan menyedot perhatian dunia.