Sekitar 20 hingga 25 tembakan menggelegar di sekitar Gedung Putih pada Sabtu malam (23/5/2026) waktu setempat, memicu kepanikan di salah satu kawasan paling dijaga ketat di dunia.
Seorang pria bersenjata mendekati sisi barat Gedung Putih dan melepaskan tiga tembakan ke arah perimeter keamanan. Agen Secret Service membalas, mengenai pelaku, dan berhasil mencegahnya menembus kawasan itu. Pelaku dibawa ke rumah sakit setempat dan kemudian dinyatakan meninggal dunia. Satu warga sipil ikut tertembak dalam baku tembak itu, meski pihak berwenang tidak merilis informasi soal kondisinya.
Presiden Donald Trump sedang berada di Gedung Putih saat kejadian. Ia tengah membahas negosiasi kesepakatan damai terkait konflik Iran ketika suara tembakan meletus dari luar.
Polisi langsung menutup akses ke seluruh kawasan. Pasukan Garda Nasional menghalangi jurnalis yang hendak masuk ke area pusat kota Washington DC. Para wartawan yang sudah berada di halaman utara Gedung Putih diperintahkan berlari dan berlindung di ruang konferensi pers. Bukan situasi yang pernah dilatih setiap hari.
Koresponden ABC News, Selina Wang, kebetulan sedang merekam video untuk media sosial ketika tembakan meletus. Ia terekam terjatuh ke tanah sambil mendengar suara tembakan beruntun. "Kedengarannya seperti puluhan tembakan," tulisnya di X.
Seorang wisatawan asal Kanada, Reid Adrian, bercerita kepada AFP bahwa dirinya sempat mengira suara itu kembang api. "Kami mendengar mungkin 20 hingga 25 suara seperti kembang api, tetapi itu adalah tembakan, dan kemudian semua orang mulai berlari," kata Adrian.
FBI turut diturunkan ke lokasi. Direktur FBI Kash Patel menyatakan lembaganya berada di tempat kejadian untuk mendukung operasi Secret Service dalam menanggapi insiden itu. Secret Service sendiri mengaku masih mengumpulkan informasi ketika pertama kali dimintai keterangan AFP.
Insiden ini agaknya akan mempertebal pertanyaan soal standar keamanan kawasan ibu kota AS. Celah itu nyata. Pertanyaannya sekarang: seberapa dalam?