SELASA, 29 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  PDB Malaysia 5,4% di Q1 2026, Kalah Tipis dari Ind...

Ekonomi

PDB Malaysia 5,4% di Q1 2026, Kalah Tipis dari Indonesia

Ekonomi Malaysia tumbuh 5,4% pada kuartal pertama 2026, melampaui konsensus tapi melambat tajam dari 6,2%-6,3% di kuartal sebelumnya. Indonesia mencatat angka lebih tinggi: 5,61%, tertinggi dalam 10 kuartal terakhir.

Pertumbuhan ekonomi Malaysia melambat, di bawah Indonesia

Sepanjang kuartal pertama 2026, ekonomi Malaysia membukukan pertumbuhan produk domestik bruto sebesar 5,4%, sedikit melampaui estimasi konsensus 5,3% yang sudah beredar sebelumnya. Angka ini tampak melegakan di permukaan, tapi cerita sesungguhnya ada di perbandingannya dengan kuartal sebelumnya.

Pada kuartal IV-2025, Malaysia mencatat ekspansi 6,3% secara tahunan. Pelambatan ke 5,4% dalam satu kuartal bukan sesuatu yang bisa diabaikan begitu saja, apalagi ketika tekanan global belum juga reda.

Kepala Departemen Statistik Malaysia Datuk Dri Mohd Uzir Mahidin bilang sebagian besar sektor utama masih dalam jalur ekspansi, tapi lajunya memang meredup setelah kinerja kuat di penghujung 2025. "Meskipun sebagian besar sektor utama tetap berada di jalur ekspansi, laju pertumbuhan melambat setelah kinerja yang kuat pada kuartal sebelumnya," ujarnya. Gubernur Bank Negara Malaysia (BNM) Abdul Rasheed Ghaffour lebih blak-blakan soal penyebabnya: dinamika pasar global. "Dari tingginya harga energi, gangguan rantai pasok, dan ketidakpastian yang meningkat akibat faktor eksternal," kata Ghaffour, Jumat (15/5).

Gamblang.

Inflasi memberi gambaran yang campur aduk. Inflasi utama kuartalan terkerek ke 1,6% dari 1,3% pada periode sebelumnya, sebagian didorong imbas awal konflik di Timur Tengah. Inflasi inti justru melandai ke 2,1% dari 2,3%, sinyal bahwa tekanan harga dari sisi domestik masih terkendali, setidaknya untuk saat ini. Tunggu, hapus em dash itu: tekanan harga dari sisi domestik masih terkendali, paling tidak untuk saat ini.

BNM memilih bertahan. Suku bunga acuan tetap di level 2,75%, dan Ghaffour menilai kebijakan moneter sudah di posisi yang pas. Ekspektasi pertumbuhan tahunan 2026 diproyeksikan di kisaran 4-5%, ditopang permintaan domestik yang solid dan ekspor yang terus merambah pasar baru.

Nah, soal perbandingan, ini yang bikin sedikit panas. Indonesia membukukan pertumbuhan 5,61% di kuartal I-2026, tertinggi dalam 10 kuartal terakhir atau sejak September 2022. Idul Fitri 2026 jadi bahan bakar utama belanja konsumen, dan dampaknya langsung terasa di angka PDB. Tantangan berikutnya buat Jakarta: menjaga momentum itu agar target 5,4-5,6% sepanjang tahun tidak sekadar angka di atas kertas.

Dua negara tetangga, dua trajektori berbeda di awal 2026. Apakah Malaysia bisa mempersempit selisih itu di kuartal kedua, atau tekanan eksternal justru makin menggigit? Kuartal II akan menjadi cermin sesungguhnya.