RABU, 14 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Parlemen Iran Serukan Balas Dendam, Khamenei Baru...

Internasional

Parlemen Iran Serukan Balas Dendam, Khamenei Baru Angkat Bicara

Sepeninggal Ali Khamenei yang tewas dalam serangan udara AS-Israel, Iran memasuki babak baru ketegangan. Parlemen serukan pembalasan dan ancam kontrol Selat Hormuz, sementara penerus sang pemimpin buka suara untuk pertama kalinya.

Mojtaba Khamenei Angkat Suara Usai Pemakaman Ayahnya

Lima hari prosesi pemakaman, jutaan pelayat di tiga kota, dan kini satu pertanyaan yang menggantung di udara Teheran: apa langkah Iran selanjutnya?

Selasa (14/7/2026), dua sinyal keras keluar hampir bersamaan dari ibu kota Iran. Sebanyak 180 anggota Majelis Syura Islam Iran menandatangani pernyataan bersama yang menuntut tindakan balasan atas kematian para syuhada, sekaligus mendesak penghentian seluruh nota kesepahaman dengan Amerika Serikat. Di Grand Mosalla, dalam upacara peringatan yang berlangsung di hari yang sama, keluarga mendiang Ali Khamenei menegaskan pesan serupa.

Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei, menyampaikan rasa terima kasih kepada rakyat Iran dan Irak melalui kakak tertuanya, Hojjatoleslam Mostafa Khamenei. Tapi pesannya bukan sekadar ucapan duka. "Kesabaran yang dimaksud sama sekali tidak bertentangan dengan balas dendam dan menghadapi para pelaku kejahatan dunia," tegas Mostafa, sebagaimana dilansir Press TV. Kalimat itu terasa seperti deklarasi, bukan pidato pemakaman biasa.

Ali Khamenei gugur pada 28 Februari lalu bersama empat anggota keluarga dan sejumlah pejabat militer senior, dalam serangan udara gabungan AS dan Israel. Ia menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi sejak Juni 1989, menggantikan Ayatollah Khomeini. Kehilangan figur sepenting itu, dengan cara sekeras itu pula, menjadikan tekanan politik di dalam negeri sulit diredam.

Di parlemen, tekanan berubah menjadi agenda konkret. Para legislator meminta Dewan Pimpinan Parlemen membentuk komite khusus untuk meninjau ulang seluruh proses negosiasi dengan Washington, sekaligus mengawal persyaratan yang sebelumnya ditetapkan mendiang Pemimpin Tertinggi. Bukan respons spontan. Parlemen juga menargetkan pengesahan undang-undang khusus soal Selat Hormuz dan penguatan doktrin pertahanan nasional.

Selat Hormuz bukan sekadar nama di peta. Jalur sempit penghubung Teluk Persia dengan Laut Oman itu adalah nadi perdagangan energi dunia, sepertiga ekspor minyak global melewatinya tiap hari. Ketika legislator Iran bicara soal "kedaulatan atas Selat Hormuz" dan dukungan penuh terhadap angkatan bersenjata untuk menegakkannya, pasar energi global punya alasan untuk pasang waspada.

Anca Trump yang lebih dulu mengumumkan penghentian MoU dengan Iran agaknya justru mempercepat konsolidasi internal di Teheran. Upacara peringatan di Grand Mosalla dihadiri Presiden Masoud Pezeshkian, jajaran pejabat militer senior, serta sejumlah duta besar dan diplomat asing. Bukan kebetulan bila momen itu dipilih sebagai panggung penegasan arah Iran.

Pertanyaan yang kini relevan bagi investor energi dan pelaku pasar global bukan lagi soal apakah Iran akan bereaksi. Seberapa jauh, itulah yang sesungguhnya sedang dihitung semua pihak.