Audit militer jarang mengejutkan siapa pun. Laporan Inspektur Jenderal Pentagon yang dirilis 6 Agustus ini berbeda.
Inspeksi terhadap 11 fasilitas militer AS di kawasan Indo-Pasifik menemukan kondisi infrastruktur yang, jujur saja, jauh dari kata siap tempur. Langit-langit runtuh. Dinding hanggar berlubang karat hingga peralatan di dalamnya terekspos ke cuaca luar. Jamur, asbes, cat berbahan timbal, retakan di mana-mana. Beberapa sambungan komunikasi tidak berfungsi sama sekali. Bukan gambaran yang ingin Anda lihat dari pangkalan yang diklaim sebagai benteng utama proyeksi kekuatan AS di Pasifik.
Pangkalan Udara Kadena di Okinawa, Jepang, paling banyak disorot. Fasilitas ini menyimpan amunisi senilai sekitar 836 juta dollar AS, atau sekitar Rp 14 triliun, dan menjadi rumah bagi sekitar 20.000 warga Amerika. Sedikitnya 243 unit rumah dikosongkan karena kerusakan struktural, ditambah 139 unit lain yang terdampak runtuhnya plafon. Di beberapa bangunan, serpihan fasad yang copot membahayakan siapa pun yang melintas di bawahnya.
Masalah serupa ditemukan di Pangkalan Udara Yokota dan Marine Corps Base Camp Courtney, juga di Jepang. Pola yang sama berulang: korosi masif, kerusakan akibat kebakaran, kebocoran air, bahan bangunan berbahaya yang belum diatasi.
Para pejabat yang bertugas di fasilitas-fasilitas itu menyalahkan kombinasi usia bangunan, sebagian besar dibangun sejak era 1970-an, dengan kondisi lingkungan ekstrem: badai, gempa, tsunami. Faktor lain yang disebut adalah skema pendanaan bersama AS-Jepang yang rumit, di mana kontribusi Tokyo lebih banyak diarahkan ke "tujuan strategis yang lebih luas" ketimbang menambal infrastruktur yang sudah bobrok.
Apakah ini baru terjadi? Tidak. Kerusakan fasilitas militer AS di Pasifik sudah menjadi masalah menahun yang belum pernah ditangani tuntas oleh pemerintahan mana pun. Pada 2024, pemerintahan Biden meluncurkan Rencana Aksi Infrastruktur khusus yang mengakui setidaknya 70% sistem utilitas di lokasi Angkatan Udara Pasifik sudah mengalami kerusakan parah akibat lingkungan yang sangat korosif. Warisan yang kini jatuh ke tangan pemerintahan Trump.
Anggaran pertahanan 1,5 triliun dollar AS untuk tahun fiskal 2027 yang diusulkan Trump memang angka yang tidak main-main, naik tajam dari 901 miliar dollar yang sudah disetujui untuk tahun berjalan. Washington juga terus mendesak sekutu regional menambah belanja pertahanan. Ironis, kalau pangkalan-pangkalan AS sendiri agaknya belum mencerminkan kesiapan yang diklaim.
Mark Sinder, Deputi Asisten untuk Modernisasi Infrastruktur Pentagon, menyatakan bahwa departemen militer bersama para pemangku kepentingan terkait akan memimpin upaya penanganan kekurangan infrastruktur yang telah diidentifikasi. Jadwal rinci perbaikannya, kata Sinder, akan segera disusun. Setidaknya itu klaim manajemen, satu yang masih perlu dibuktikan mengingat masalah ini sudah bergulir bertahun-tahun tanpa resolusi konkret.
Pertanyaan yang lebih tajam bukan soal kapan hanggar-hanggar itu diperbaiki. Seberapa jauh kondisi ini sudah menggerus kemampuan riil AS memproyeksikan kekuatan di kawasan, saat Beijing terus mempercepat modernisasi militernya?