SABTU, 10 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Pakistan Siap Bela Arab Saudi, Pakta Pertahanan Nu...

Internasional

Pakistan Siap Bela Arab Saudi, Pakta Pertahanan Nuklir Mulai Diuji Nyata

Pakistan menegaskan dukungannya kepada Arab Saudi pasca serangan Iran terhadap fasilitas petrokimia Al Jubail, dengan mengingatkan adanya pakta pertahanan yang menyebut agresi terhadap satu negara adalah agresi terhadap keduanya.

Satu kalimat sudah cukup: negara Muslim pertama bersenjata nuklir kini secara terbuka menyatakan siap membela Arab Saudi jika konflik Iran benar-benar meledak jadi perang terbuka.

Perdana Menteri Shehbaz Sharif menelepon Putra Mahkota Mohammed bin Salman pada Selasa (7/4/2026), menegaskan ulang dukungan Islamabad setelah serangan Iran terhadap fasilitas petrokimia Al Jubail. Bukan solidaritas diplomatik biasa. Pakistan dan Arab Saudi menandatangani perjanjian pertahanan strategis bersama tahun lalu, dan klausulnya tegas: agresi terhadap salah satu negara akan dianggap sebagai agresi terhadap keduanya.

Artinya, secara teknis, Pakistan punya dasar hukum untuk masuk ke konflik.

Militer Pakistan mengecam serangan Iran terhadap infrastruktur Saudi sebagai eskalasi yang merusak peluang mediasi, memuji "kesabaran dan pengekangan" Riyadh atas "provokasi" yang terus berlanjut, sekaligus memperingatkan bahwa serangan yang tidak berhenti berisiko menutup pintu dialog selamanya. Peringatan itu, agaknya, bukan sekadar angin lalu.

Iran sudah berulang kali menghantam Arab Saudi sejak konflik AS-Israel-Iran meletus pada 28 Februari lalu. Posisi publik Kerajaan selama ini menyatakan tidak mengizinkan wilayahnya jadi batu loncatan serangan terhadap Iran, tapi fakta bahwa fasilitas energi strategisnya kini jadi sasaran menempatkan Riyadh di posisi yang kian sulit dipertahankan.

Justru di Islamabad sendiri titik tegangnya terasa paling runcing. Beberapa pekan terakhir, Pakistan berfungsi sebagai perantara utama antara Washington dan Teheran, menyampaikan proposal dari kedua belah pihak dalam upaya mencegah eskalasi. Dua sumber Pakistan mengonfirmasi kepada Reuters bahwa fasilitasi pembicaraan AS-Iran masih berjalan, bahkan ketika tekanan militer Amerika terus meningkat dan tenggat waktu yang ditetapkan Presiden Donald Trump semakin mendekat.

Ibarat pedang bermata dua. Bertindak sebagai mediator sekaligus menyatakan siap membela salah satu pihak dalam konflik yang sama adalah dilema tanpa jalan keluar yang bersih. Setiap serangan Iran berikutnya terhadap Arab Saudi bisa memaksa Islamabad memilih: tetap di meja perundingan, atau mengaktifkan pakta pertahanannya.

Sharif, dalam percakapannya dengan MBS, menekankan bahwa pemerintah dan rakyat Pakistan berdiri bersama Arab Saudi. Putra mahkota menyambut pernyataan itu dan menegaskan kerja sama kedua negara akan terus berjalan. Hangat di permukaan. Tapi dibaca di atas latar kawasan yang sedang mendidih, setiap kata terasa lebih berat dari biasanya.

Serangan terhadap Al Jubail bukan insiden kecil. Kompleks petrokimia itu termasuk yang terbesar di dunia, dan gangguan terhadapnya langsung dirasakan pasar energi global. Kalau Iran terus membidik titik-titik seperti ini, Islamabad bisa jadi tidak akan punya banyak ruang untuk bertahan di kursi penengah. Pakta pertahanan yang selama ini hanya dokumen terancam berubah jadi tindakan nyata.

Pertanyaannya bukan lagi apakah Pakistan akan terlibat. Seberapa jauh eskalasi harus terjadi sebelum Islamabad memutuskan: cukup sudah.