SELASA, 13 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Pakistan Kirim Jet Tempur ke Saudi Saat Jadi Tuan...

Internasional

Pakistan Kirim Jet Tempur ke Saudi Saat Jadi Tuan Rumah Negosiasi AS-Iran

Di hari yang sama Pakistan menjadi tuan rumah negosiasi damai AS-Iran di Islamabad, jet-jet tempurnya justru mendarat di Pangkalan Udara King Abdulaziz, Arab Saudi. Sinyal yang sulit dibaca satu arah.

Sabtu, 11 April lalu, Islamabad sedang sibuk menggelar meja perundingan antara Amerika Serikat dan Iran. Di waktu yang hampir bersamaan, pesawat-pesawat tempur Pakistan mendarat di Pangkalan Udara King Abdulaziz, Arab Saudi.

Dua peristiwa. Satu negara. Bukan kebetulan.

Kementerian Pertahanan Saudi mengonfirmasi kedatangan personel militer dan jet tempur Pakistan itu lewat pernyataan resmi. Pengerahan ini bertujuan meningkatkan koordinasi militer, memperkuat kesiapan operasional, serta mendukung keamanan dan stabilitas regional, begitu menurut pernyataan kementerian. Latar belakangnya tidak bisa diabaikan: serangan Iran yang belakangan menghantam infrastruktur energi Saudi dan menewaskan seorang warga negara Kerajaan.

Ini bukan gerakan dadakan. Pengerahan jet tempur itu adalah realisasi pakta pertahanan bersama yang ditandatangani Pakistan dan Arab Saudi pada September 2025, saat PM Shehbaz Sharif berkunjung ke Riyadh dan bertemu langsung dengan Putra Mahkota Mohammed bin Salman. Isi pakta itu cukup tegas: serangan terhadap satu pihak dianggap sebagai serangan terhadap keduanya.

Shehbaz sendiri, dalam kunjungan itu, menyampaikan apresiasi atas dukungan ekonomi Kerajaan yang sudah bertahun-tahun menopang stabilitas fiskal Pakistan. Bukan basa-basi. Arab Saudi memang berkali-kali jadi penyangga likuiditas ketika ekonomi Islamabad limbung. Kompensasi senilai Rp85 triliun pun turut disebut-sebut sebagai salah satu pilar yang memperkuat komitmen militer ini.

Pertanyaannya sederhana: pesan apa yang sedang Pakistan kirim?

Pengamat keamanan Imtiaz Gul tidak membaca ini sebagai eskalasi. "Tiga jet tidak akan membuat banyak perbedaan secara militer. Ini adalah pesan kepada Teheran untuk bersikap fleksibel dalam pembicaraan ini, tetapi juga menggarisbawahi kepada mereka bahwa Pakistan memiliki kewajiban berdasarkan perjanjian strategisnya dengan Riyadh," kata Gul kepada Al Jazeera.

Bacaan berbeda datang dari Michael Kugelman, peneliti senior untuk Asia Selatan di Atlantic Council. Baginya, langkah ini "agak berisiko." "Ini adalah sinyal dari Pakistan kepada Iran bahwa jika Iran tidak bersedia membuat konsesi yang mengarah pada kesepakatan, ada kemungkinan Pakistan akan mendekatkan diri ke Arab Saudi dan mungkin mengaktifkan pakta pertahanan bersama," ujarnya. Cukup untuk bikin Teheran gelisah.

Sebelum jet-jet itu lepas landas menuju Riyadh, Menlu Pakistan Ishaq Dar sudah lebih dulu memberi tahu para pemimpin Iran secara langsung bahwa Islamabad terikat secara hukum pada perjanjian dengan Saudi. Iran, dari sisi sebaliknya, meminta jaminan agar wilayah Saudi tidak dipakai sebagai basis serangan ke Teheran. Jaminan yang agaknya belum pernah datang secara formal, sementara serangan Iran ke instalasi-instalasi penting di Saudi, termasuk pangkalan militer dan gedung kedutaan AS, justru terus berlanjut.

Pakistan sedang bermain di atas kawat. Di satu sisi, hubungan historis dan kedekatan kultural dengan Iran, sesama negara mayoritas Muslim. Di sisi lain, ketergantungan ekonomi dan kini komitmen militer formal kepada Saudi. Ditambah peran mediator yang diminta Washington untuk menjembatani jalan menuju de-eskalasi. Tiga tarikan sekaligus.

Bisakah satu negara duduk di tiga kursi sekaligus? Kita akan tahu jawabannya dari arah mana jet-jet berikutnya terbang.