SABTU, 3 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Pakistan Kerahkan 8.000 Tentara dan Jet Tempur ke...

Internasional

Pakistan Kerahkan 8.000 Tentara dan Jet Tempur ke Arab Saudi

Di balik peran Pakistan sebagai mediator konflik Iran, Islamabad diam-diam mengerahkan pasukan militer berskala besar ke Arab Saudi, termasuk jet tempur, drone, dan sistem pertahanan udara canggih.

Pakistan telah kirim 8.000 tentara dan jet tempur ke Arab Saudi?

Sewaktu Pakistan tampil di panggung diplomasi sebagai penengah perang Iran, ada pergerakan militer yang jauh lebih serius di balik layar. Islamabad telah mengirimkan sekitar 8.000 tentara, satu skuadron pesawat tempur, dua skuadron drone, dan sistem pertahanan udara ke Arab Saudi, semuanya dalam kerangka perjanjian pertahanan bersama yang ditandatangani tahun lalu dan masih bersifat rahasia.

Pengerahan ini dikonfirmasi oleh tiga pejabat keamanan dan dua sumber pemerintah kepada Reuters, dan baru pertama kali dilaporkan secara lengkap. Para sumber menyebutnya sebagai kekuatan siap tempur yang disiapkan untuk mendukung militer Saudi jika kerajaan tersebut menghadapi serangan lanjutan dari Iran atau pihak mana pun.

Satu skuadron sekitar 16 pesawat dikirim Pakistan, sebagian besar jet tempur JF-17 produksi bersama China, yang tiba di Arab Saudi pada awal April. Turut serta dalam paket ini: sistem pertahanan udara HQ-9 buatan China, dioperasikan personel Pakistan dengan seluruh tagihan ditanggung Riyadh. Selama periode konflik dengan Iran, peran personel tersebut disebut lebih sebagai penasihat dan pelatih, menurut dua pejabat yang mengaku telah melihat dokumen komunikasi antara kedua negara.

Angka 8.000 itu bukan batas akhir. Satu sumber pemerintah yang mengklaim telah membaca isi perjanjian rahasia menyebut klausulnya memungkinkan pengerahan hingga 80.000 tentara Pakistan ke Arab Saudi untuk mengamankan perbatasan bersama pasukan Saudi. Perjanjian itu juga disebut mencakup kemungkinan pengiriman kapal perang Pakistan, meski Reuters belum bisa memastikan apakah armada laut sudah benar-benar tiba.

Konteks geopolitisnya tidak bisa diabaikan. Pengerahan ini berlangsung setelah serangan Iran menghantam infrastruktur energi penting Arab Saudi dan menewaskan seorang warga Saudi, memantik kekhawatiran eskalasi yang lebih luas. Riyadh pun dilaporkan melancarkan sejumlah serangan balasan ke Iran yang tidak diumumkan secara resmi. Justru di tengah bara itulah Pakistan muncul sebagai fasilitator gencatan senjata antara Washington dan Teheran, bahkan menjadi tuan rumah satu putaran pembicaraan damai AS-Iran sebelum rencana pertemuan lanjutan batal digelar.

Dua topi sekaligus. Mediator perdamaian di satu sisi, sekutu militer aktif salah satu pihak di sisi lain. Bukan posisi yang mudah dipertahankan lama. Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif sebelumnya mengisyaratkan bahwa perjanjian ini menempatkan Arab Saudi di bawah payung nuklir Pakistan, setidaknya itu klaimnya. Kalau benar, ini bukan sembarang komitmen bilateral.

Hubungan militer Pakistan dan Arab Saudi memang bukan baru kemarin. Penugasan penasihat dan pelatih sudah berlangsung lama, dan Riyadh tercatat beberapa kali mengulurkan bantuan finansial ketika Islamabad dihajar krisis ekonomi. Pengerahan kali ini menambah lapisan baru di atas kerja sama yang sudah berjalan, dengan skala yang jauh lebih besar dari sekadar misi simbolis.