Dua skadron. Itulah yang sedang disiapkan Pakistan, kalau laporan media pertahanan internasional ini benar.
Angkatan Udara Pakistan (PAF) disebut tengah memproses akuisisi hingga 40 unit jet tempur siluman Shenyang J-35AE, varian ekspor generasi kelima buatan China. Standar satu skadron tempur modern terdiri dari 16 hingga 20 pesawat, artinya 40 unit itu cukup untuk membentuk dua skadron baru secara penuh. Bukan pembelian kecil-kecilan.
Rencana ini bukan sekadar rumor yang beredar di forum militer. Januari 2024, Marsekal Zaheer Ahmed Baber Sidhu selaku Kepala Staf Angkatan Udara Pakistan secara terbuka menyatakan bahwa landasan untuk mengakuisisi jet tempur generasi kelima tersebut sudah diletakkan. Kalimat yang terdengar formal, tapi pesannya jelas: Pakistan serius.
J-35AE dikembangkan dari basis Shenyang FC-31 dan J-35A, diposisikan Beijing sebagai pesaing langsung F-35 Lightning II milik Amerika Serikat. Secara teknis, pesawat ini menggunakan material penyerap radar (RAM), dilengkapi radar AESA, ruang senjata internal agar profil silumannya terjaga, serta sistem peperangan elektronik terintegrasi. Di atas kertas, kombinasi itu menjadikannya ancaman yang tidak bisa dianggap enteng di medan udara modern.
Sejumlah pilot Pakistan bahkan disebut sudah memulai pelatihan intensif di China, mengutip laporan India Today. Sinyal bahwa persiapan operasional platform ini bukan baru dimulai kemarin sore.
Pakistan bukan pemula soal alutsista buatan China. J-10C dan JF-17 Thunder sudah lebih dulu memperkuat PAF, keduanya hasil kolaborasi erat Islamabad dengan Beijing. J-35AE, kalau benar jadi, akan menjadi lompatan paling ambisius dari rangkaian panjang kerja sama pertahanan kedua negara itu.
Yang membuat akuisisi ini terasa lebih dari sekadar modernisasi rutin adalah konteks geopolitiknya. Tulang punggung Angkatan Udara India (IAF) saat ini masih bersandar pada jet generasi 4.5, yakni Dassault Rafale dan Su-30MKI. Program jet tempur generasi kelima domestik India, AMCA (Advanced Medium Combat Aircraft), baru diprediksi masuk tahap produksi di dekade 2030-an. Jendela waktu itulah yang berpotensi dimanfaatkan Pakistan. Pertanyaannya, berapa lama celah ini benar-benar bisa dieksploitasi?
Teknologi generasi kelima bukan cuma soal pesawat. Ada ekosistem panjang di baliknya: pelatihan, logistik, infrastruktur pendukung. Seberapa cepat PAF bisa menguasai seluruh rantai itu, agaknya itulah yang akan menentukan apakah akuisisi ini benar-benar mengubah peta udara Asia Selatan atau sekadar jadi angka di atas kertas.
Yang sudah pasti, jika transaksi ini berjalan mulus, China akan mencatat tonggak baru. Pertama kalinya jet tempur generasi kelima dari non-Barat benar-benar dioperasikan negara ketiga. Monopoli Barat atas pasar senjata paling prestisius itu mulai retak, setidaknya begitu klaim Beijing.